DAY 24 - Pemupukan Cabai Merah


Setelah adik-adik SMK PPN 1 Tegal Ampel Bondowoso memasang ajir pada tanaman cabar merah; kami semua melakukan pemupukan terhadap tanaman cabai merah untuk kesekian kalinya. Pemupukan diawali dengan meracik pupuk ponska dan pupuk mutiara. Keduanya dicairkan menggunakan air bersih untuk kemudian dilarutkan ke dalam dua tong plastik besar berkapasitas 150 liter. Setiap tong berisi 1,5 kg pupuk ponska dan 1 kg pupuk mutiara. Kami berempat belas memupuk tanaman cabai yang luas lahannya mencapai 2,5 ha bersama 5 Ibu-ibu, tenaga kerja tetap P4S Persada Nusantara.
***
Sementara yang piket sedang mencuci piring, kami memulai diskusi rutin yang kali ini dimulai ba'dha magrib usai makan malam bersama. Diskusi selalu di dampingi oleh Pak Machmud. Beliau bisa membuat kami terperangah dengan setiap ilmu yang beliau sampakan. Saya selalu berpikir tentang kemampuan praktek dan pemahaman teori beliau yang mendalam. Ada rasa syukur yang menguap karena bisa di pertemukan dengan sosok guru serupa beliau.
***
Rasa syukur semacam itu saya rasakan sejak SLTA. Ini bukan karena saya tidak bersyukur atas guru yang mengajari saya di MI, SD hingga SLTP. Namun mungkin karena pada saat itu saya kurang peka.
Tidak ada yang kebetulan!
Seperti saya yang selalu dipertemukan dengan guru-guru (formal) yang luar biasa.
Guru dapat mengubah pola pikir kita. Memang tidak instan kadang. Tapi saya rasakan.
Guru-guru di SLTA (MAN) saya adalah orang-orang luar biasa. Bisa jadi mereka adalah guru-guru yang paling mendobrak pola pikir saya. Mengajarkan arti taqwa, pantang menyerah, syukur, gigih, dan lain sebagainya dengan cara yang begitu berkesan. Tak terlupakan.
Sebut saja, beliau-beliau adalah Bu Ifa, Pak Wasil, Sir.Wahid, Bu Nursiyah, dan lain-lain.
Di bangku kursus saya juga dipertemukan dengan guru yang juga amat memotivasi. Beliau adalah Mrs. Ria, Mrs. Silvi, Mr. Catur, dan lain-lain.
Sulit menjelaskan motivasi mereka yang jumlahnya banyak itu. Salah satunya untuk tidak ragu.
Di kampus saya bertemu dengan dosen-dosen prodi Agribisnis yang tak kalah keren dan menggugah. Pelajaran dari mereka tidak sebatas apa yang di sampaikan di papan tulis atau pun layar proyektor. Perilaku di luar kelas juga kerap membuat kami terkesan. Kami berpikir jika semua dosen agribisnis adalah orang-orang pilihan. Ini bukan karena membanggakan jurusan kami. Tapi karena kami menjadi bagian dari Agribisnis hingga bisa menyaksikannya sendiri.
Benar kata kitab Ta'limul Muta'allim tentang anjuran agar kita pandai memilih teman, memilih guru dan memilih ilmu.
Saya tidak memilih sebelumnya ingin belajar dimana. Karena sering yang didapat bukan apa yang dipilih. Tapi Allah telah memilihnya untuk saya. Dan saya patut bersyukur.
***
What a teacher writes on the blackboard of life can never be erased.
-Unknown Author
***
Guru sangat berperan dalam pembangunan nasional. Karena guru dinilai memberikan sumbangsih terhadap karakter dan keterampilan generasi penerus bangsa. Tingkat ilmu pengetahuan merupakan ukuran yang sangat penting dalam membedakan kemajuan dan kemunduran bagi suatu negara. Jika berbicara mengenai jasa seorang guru tak habis kata-kata yang bisa diutarakan. Kita hanya perlu menerapkan apa yang di ajarkan agama; untuk menghormati guru dan mendoakan guru.
“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda serta yang tidak mengerti hak ulama.” (HR. Ahmad)
Menghormati guru ini memiliki arti yang begitu luas. Bagaimana cara bicara kita pada seorang guru, cara bertanya, cara menjawab, cara bertamu, dsbgnya. Intinya, akhlak yang baik adalah hal yang tidak bisa dilupakan seorang murid terhadap gurunya.
***
Alkisah Syekhona Cholil hendak menaiki sebuah delman. Sebelum menaiki delman tersebut beliau bertanya pada sang kusir dari manakah asal kuda yang menjadi penggerak delman itu. Setelah mendapati jawaban bahwa kuda itu berasal dari kota yang sama dengan tempat tinggal sang guru, Syekhona Cholil mengurungkan niat untuk menaiki delman tersebut. Ini dikarenakan beliau khawatir kuda yang di gunakan pada delman tersebut masih sedarah/keturunan dari kuda yang di pelihara sang guru.
Ini hanya sepotong kisah bagaimana kehatihatian seorang pencari ilmu terhadap gurunya. Bagaimanakah dengan kita, perilaku kita pada keluarga guru, dan lain sebagainya?
***
Guru adalah manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Namun janganlah mencari-cari kesalahan mereka lantas menggunjingnya.
“Ya Allah tutupilah aib guruku dariku, dan janganlah kau hilangkan keberkahan ilmuya dari ku.” begitu doa orang salaf terdahulu.
Sebab semua akan berpengaruh pada ilmu yang kita dapat. Akankah ilmu yang kita peroleh akan bermanfaat, atau bahkan kita akan sulit menyerap ilmu yang disampaikan oleh seorang guru. Karena ridlo guru yang akan mengantarkan kita pada kesuksesan mencapai pemahaman terhadap sebuah ilmu.
Dalam syairnya Imam Syafi'i berkata:
"Bersabarlah terhadap kerasnya sikap seorang guru, sesungguhnya gagalnya mempelajari ilmu karena memusuhinya."
***
Oleh karenanya, di tengah munculnya persoalan di
masyarakat tentang semakin pudarnya membudayakan kesantunan dan budi pekerti, hendaknya kita dapat meggiatkan perilaku menghormati dan memuliakan guru dari diri kita sendiri.
Salah satunya, perilaku memperingati Hari Guru Nasional yang telah ditetapkan pemerintah. Harusnya tidak hanya di 25 November, namun setiap hari kita harus memperingati diri bagaimana jasa seorang guru yang kemudian kita balas dengan akhlak baik dan doa yang tulus.
***
Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru..
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku..
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku..
Sebagai prasasti terima kasihku tuk pengabdianmu..
Engkau sebagai pelita dalam kegelapan..
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan..
Engkau patriot pahlawan bangsa
Pembangun insan cendikia..
-Sartono🎼
.
.
Lumajang, 1 Februari 2017 @14:54 WIB

0 komentar