DAY 14 - Que Sera Sera


Hari ini adalah hari Minggu kedua. Tinggal menunggu Minggu ketiga, kemudian inshaaAllah di Minggu keempat kami pulang kampung. Aih, tidak semua dari kami tinggal di kampung. Saya ingat, Irvi tinggal di kota Sidoarjo. Hehehe.
***
Usai menonton TV dan menandaskan sarapan sekitar pukul 09:00 WIB kami kembali ke sekotak kamar bercat kuning ini. Saya dan Irvi berbincang-bincang mengenai masa depan. Pikiran kita tentang kedua orang tua kita masing-masing membuat pertanyaan meletup-meletup tak terduga.
Akankah kita membanggakan? Akankah kita bisa membahagiakan?
Akankah kita mempermudah keinginan?
Akankah harapan mereka bisa kita wujudkan?
Akankah peluh mereka bisa kita hapus dengan sapu tangan manis kehidupan?
Akankah kita dapat memberikan kemudahan?
Akankah kita bisa meloloskan mereka dari dunia yang kerap menekan?
Akankah semua cita menjadi kenyataan?
Akankah kita bisa menjadi penyejuk yang selama ini mereka impikan?
Akankah perjuangan besar mereka dapat kita balas meski hanya dengan secuil kebahagiaan?
***
"Tidak, tidak. Saya tidak akan membalas secuil saja. Saya akan memberikan yang terbaik yang saya bisa," pekik batinku.
***
Ah, kedua orang tua tidak pernah berharap ini itu pada anaknya. Mereka cukup bahagia melihat buah hati mereka bahagia. Mereka menyekolahkan, merawat, menyayangi, dan lain-lain tanpa pamrih. Begitulah apa yang pernah diungkapkan Bapak. Lalu juga terungkap lewat senyum manis Ibu.
***
Saya dan Irvi masih berbincang mengenai kita yang masih belum bisa menjadi apa-apa atau memberi apa-apa di usia yang perlahan mulai menua ini. Kita ingin memberi kebahagian tapi sejatinya kita sendiri tidak memahami definisi kebahagiaan. Sungguh tidak pas bila bahagia dikonversikan menjadi sebuah mobil mewah, rumah megah, makanan lezat, perhiasan mahal, dan benda-benda lainnya. Kenyataannya, bertebaran orang yang memiliki macam benda tersebut tapi belum merasa bahagia. Sementara kami ingin memberi sebuah benda hingga kedua orang tu kami bahagia menurut definisi kami. Padahal bukan itu yang mereka mau. Menurut saya materi memang penting buat mereka. Untuk sedikit membantu kehidupan mereka. Akan tetapi ada hal yang lebih utama, yakni kasih sayang. Kasih sayang yang kita salurkan lewat bantuan-bantuan ringan kita setiap hari, seringnya menghubungi mereka lewat telefon, mengunjungi mereka, kepedulian kita pada mereka, pelukan hangat kita untuk mereka, senyum dan tawa kita.
***
Jika berupa sebuah pemberian apa ya yang kira-kira pas untuk kedua orang tua saya?
Hmm, menaikkan haji mereka adalah impian yang sangat pasaran. Tetapi saat membayangkan itu terjadi, tak dapat dipungkuri saya bahagia. Saya membayangkan Bapak yang terkesan dengan perjalanan hajinya. Mengalir air mata haru di pipi sepuhnya.Bapak yang berulangkali mengucap syukur mengingat beliau adalah orang yang sangat pandai bersyukur dengan nikmatNya. Bapak yang mudah haru meski tak beliau tampilkan dengan tangisan melainkan diam seribu bahasa. Bapak yang selalu menghargai pemberian saya walau hanya sebotol minuman kesehatan. Lalu bayangan Ibu juga muncul dalam benak saya. Beliau pasti akan menangis haru kemudian memeluk saya. Ibu adalah sosok yang sangat susah ditanya ingin makan apa, karena jawabannya selalu: tidak ingin apa-apa. Ibu selalu menutupi sakit hati yang timbul karena perkataan ataupun perlakuan anak-anaknya. Ibu yang selalu membalas dengan penuh cinta. Ibu yang selalu ada. Ibu yang rela meyiapkan makanan saat saya pulang larut dari kampus meski saya telah setua ini. Ibu dan Bapak, saya tidak bisa menyebutkan semua kebaikan kalian. Terlalu banyak. Tak terbilang. Tak terhingga. Maka, meng-hajikan mereka adalah mozaik dari utuhnya mimpi saya.
***
Pun Irvi. Ia adalah anak pertama dari dua bersaudara. Membahagiakan kedua orang tua adalah harga mati baginya. Sama dengan saya, pertanyaan "akankah/bisakah?" seringkali berkerumul dalam pikirannya. Ah, kami hanya wajib berusaha dan berdoa. Biarlah Allah yang mengatur.
Duhai Allah, berikanlah umur yang panjang dan berkah untuk kedua malaikat tak bersayap kami. Aamiin~
***
"Berbakti (kepada orang tua) adalah sebaik-baik pintu surga."
-HR. Ahmad At-Tirmidzi dan Ibnu Majah
***
Keraguan untuk membahagiakan kedua orang tua kerapkali muncul jika mengingat perilaku kita. Perilaku yang kerap mengeluh dengan masalah kecil, hendak menyerah dengan peliknya hidup yang tak seberapa, lelah dengan pahitnya perjuangan, malas belajar dan berdoa, dan yang terpenting makin jauh dari Tuhannya. Hmm, maka mendekatlah padaNya. Niscaya akan dipermudah segala urusan dunia maupun akhirat. Memang tak selalu mudah mendekat padaNya. Namun kita masih bisa berdoa, mengemis bimbingan dariNya. Agar diberikan kemudahan mendekat padaNya.
***
"Ingatlah selalu manisnya ketika sampai ke tujuan, maka pahitnya perjuangan terasa ringan bagimu."
-Ibnul Qayyim
***
Sore ini turun hujan deras disertai petir. Saya ingat, waktu kecil Ibu menyuruh saya membaca doa ketika ada petir. Di MI biasanya diajarkan untuk menghafal bermacam-macam doa pendek untuk berbagai hal. Kala itu juga mati listrik. Bapak tengah keluar rumah. Saat seperti itulah sangat menakutkan bagi saya ketika mati listrik dan tidak ada Bapak. Bapak belum juga pulang tapi petir terus saja menyambar dengan hujan yang makin mengucur deras, seperti sekarang ini. Saya dan adik-adik merasa takut, berselimut dan berkumpul di Musolla yang masih terbuat dari bambu bersama Ibu. Ditemani sebuah lampu minyak tanah buatan tangan. Sementara Ibu kembali menyuruh saya membaca doa itu meski telah berulangkali saya rapalkan. Begini bunyinya: Allaahumma laa taqtulnaa bighadhabika wa laa tukhlikna biadzabika wa aafina qobladzalik. Entah benar atau tidak tulisannya. Tetapi kini saya membacanya begitu di tanah Lumajang ini dengan rasa rindu pada Bapak dan Ibu. Terima kasih telah menyekolahkan saya ke MI (Madrasah Ibtidaiyah) disamping SD (Sekolah Dasar). Terima kasih untuk cinta kalian, Pak, Bu!
***
When I was just a little girl..
I asked my mother what will I be..
Will I be pretty?
Will I be rich?
Here's she said to me..
.
.
"Saya teringat lagu yang saya dengar dan lihat di televisi bertahun-tahun yang lalu, kini mengalun indah di telinga saya."
.
.
Que sera sera..
What ever will be will be..
The future's not mind to see..
Que sera sera..
.
.
Lumajang, 22 Januari 2017 @17:09 WIB.

0 komentar