DAY 13 - Penyiangan dan Pemasangan Ajir


Kegiatan hari ini dimulai dengan menyiangi pinggiran bedengan persemaian sawi. Hanya bagian pinggir karena untuk menghindari rusaknya bibit sawi yang baru tumbuh itu. Jadi akarnya rentan rusak. Kami takjub melihat bibit sawi yang bermunculan di permukaan tanah. Maha Besar Allah!
***
Setelah itu kami menyiangi kangkung darat yang hampir tiga minggu usianya. Bedengan-bedengan kangkung darat itu telah dipenuhi gulma yang tidak dikehendaki, menutupi tanaman kangkung. Sementara itu yang lain memasang ajir pada tanaman kacang panjang yang mulai tumbuh. Pemasangan ajir pada tanaman kacang panjang dilakukan dengan cara menancapkan sebilah bambu dengan posisi tegak lurus. Berbeda dengan tanaman cabai yang miring ajirnya. Ini disesuaikan dengan pertumbuhan tajuk.
Kemudian menjelang dzuhur, dengan cekatan adik-adik mulai mengambil pakan kambing yang terdapat di sekitar lahan.
***
Begitulah kriteria pertanian terintegrasi. Beragam tanaman ataupun ternak yang diusahakan. Saat konsep ini di aplikasikan oleh petani kecil maka mereka dapat mengambil hasil dari ternak jika tanaman tidak menghasilkan keuntungan, atau sebaliknya. Ini hanya sedikit kriteria dari pertanian terintegrasi. Jika kita ingin mempelajari lebih jauh, maka tidak akan habis-habis bahasannya. Itulah ilmu.
"Siapa yang menyangka bahwa ilmu itu ada akhirnya, maka ia telah salah sangka. Selalu ada ilmu lain di balik setiap ilmu."
-Dr Khalid Al Mushlih
***
Hujan turun makin deras. Kami tidur makin lelap. Hingga akhirnya sebuah suara membangunkan kami: tok tok tok!
Suara itu ditimbulkan oleh tangan Huda yang ia singgungkan dengan pintu. Ia meminta kami mengantarnya ke muka jalan raya. Ia hendak pulang kampung siang ini. Pas dengan hujan yang telah usai. Akhirnya saya dan Irvi mengantarkannya.
***
Kami melewati hamparan kebun Pak Machmud yang lain. Lahannya luas minta ampun. Terdapat tanaman singkong atau padi yang tumbuh subur. Bibit singkong yang ditanam berasal dari Kalimantan. Umbinya besar dan potensial mengingat permintaan singkong yang berkelanjutan. Ini karena selain singkong diolah menjadu pangan oleh parbrik-pabrik, singkong juga diolah menjadi pakan ternak atau pakan ikan berupa pellet yang kemudian di ekspor. Singkong juga dapat dijadikan bahan baku pembuatan bioenergy. Adapula yang mengolah limbah singkong menjadi biogas. Sudah tidak asing juga bagi kalangan inovator pangan tentang kripik yang berbahan dasar kulit singkong. Daun singkong, seperti yang kita ketahui dapat menjadi sayur pelengkap lauk dan nasi. Berbagai penelitian juga telah mengungkapkan beragam manfaat yang ada di setiap bagian tanaman singkong. Maka, karena ilmulah suatu hal bisa terungkap. Untuk kemudian memberikan manfaat yang lebih bahkan dari apa yang kita pikirkan sebelumnya.
***
Ilmu juga telah membuat kami sampai dengan cepat ke muka jalan raya menuju kota yang berjarak sekitar 5 KM dari tempat penginapan P4S Persada Nusantara. Siapa yang dulu menyangka bahwa dua roda yang dipadukan dengan mesin dan berbagai onderdil lain dapat mempermudah perjalananan seseorang. Menjadikan lebih efektif dan efisien. Ah, ilmu.
***
Saya dan Irvi kembali ke P4S setelah memastikan Huda telah menaiki bisnya. Kembali saya memandangi lahan Pak Machmud yang begitu luas. Lalu saya teringat perkataan beliau: "Saya ini dulu orang ga punya. Benar itu. Saya benar-benar ga punya. Tapi saya punya keinginan yang kuat. Saya bekerja keras. Saya lebih gigih apalagi sejak masuk SMK Pertanian. Saya harus bisa meraih cita-cita saya."
Maka, lagi-lagi karena ilmu, Kawan.
.
.
Lumajang, 21 Januari 2017 @12:12 WIB

0 komentar