DAY 12 - Pemasangan Ajir


Pemasangan ajir dilakukan dengan cara menancapkan ajir di samping tanaman cabai dengan posisi miring. Peletakan ajir juga ditentukan dari bagian luar dan dalam bambu. Keduanya belum saya tanyakan mengenai tujuan dan fungsinya. Karena Pak Machmud tengah bepergian mulai kemaren sore dan diperkirakan pulang beberapa hari lagi.
***
Untuk oretan yang saya pulikasikan ini saya ketik menggunakan hape sederhana saya. Pun proses editingnya. Saya biasanya mengetik di pesan dan menjadikannya sebuah draft. Limited kata yang bisa ditulis dalam satu pesan hanya 2 KB. Pernah saya salah memencet tombol kirim. Artinya pesan itu terkirim sebagai MMS. Dan yang paling penting, pulsa saya hangus.
***
Belakangan saya menemukan cara baru. Saya mengetik di via IG untuk kemudian menyimpannya di via WA. Kenapa? Karena mengedit di IG lebih mudah dari pada di WA dan pesan. Mudah menyecroll-nya. Kemudian limited kata yang bisa di tulis di via WA sangat besar.
Kelemahan mengetik di via IG adalah saat saya sedikit saja keliru menyentuhkan jempol saya. Ketika semua tulisan sudah saya block untuk saya satukan dan simpan WA. Saat itu saya salah menyentuh X dan tombol lain. Karena sejatinya hanya dua tombol yang menjadi penyelamat, yakni tombol cut atau tombol copy. Selain itu tulisan saya tidak akan selamat. Seperti saat saya telah mem-block semua lantas salah menyentuh satu huruuuf saja. Maka hilang. Pun kelemahan di WA. Sudah banyak yang saya simpan dari hasil ketikan di IG tapi saya dengan tidak sengaja menghapusnya. Haefh~
***
Tadi kejadian itu terulang. Saya sudah menyelesaikan catatan Day 12 dan terhapus secara tidak sengaja. Ini sudah kesekian kalinya. Biasanya saya menghela napas dan menulis ulang dari awal. Bayangkan jika saya telah menulis panjang selama hampir dua jam dengan proses editing tapi terhapus dan harus menulis ulang. Memang hasilnya tidak persis. Biasanya akan lebih pendek dan lebih tidak keruan. Akan tetapi saya tidak mau menyerah. Meski oretan saya masih ece-ece. Saya hanya ingin belajar menulis. Itu saja.
***
Hal itu tidak berlaku tadi. Saya kebingungan saya hendak menulis ulang. Saya kehabisan ide. Saya lupa apa yang akan saya tulis ulang. Benar-benar buntu.
***
Saya sampai meminjam laptop Himma. Saya memutuskan menulis ulang di laptop saja. Siapa tahu ide saya keluar. Tapi ternyata setelah saya menghidupkan laptop, pikiran saya justru makin buntu. Ditambah merasa mengantuk. Akhirnya saya memutuskan untuk mematikan laptop dan mencoba menulis di HP lagi. Sekarang 21:00 WIB, saya masih menulis ini. Entah apa isinya. Saya terus menulis. Moralnya adalah jangan mudah menyerah. Jangan mudah menyesal. Jangan ceroboh. Jangan berpikir bahwa sesuatu bisa jadi hanya sia-sia. Jangan ragu untuk selalu berhati-hati. Dll.
***
Benar kata seorang penulis ulung. "Kamu tidak bisa menulis? Ya tulis bahwa kamu tidak bisa menulis. Tulis terus, terus tulis."
***
Omong-omong oretan saya sebelumnya mengenai makin jauhnya nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari kita. InshaaAllah, lain waktu jika kata-kata yang tergabung dalam kalimat-kalimat itu muncul lagi akan saya tulis dan bagikan. Meskipun sekali lagi, masih ece-ece. ðŸ˜‚
.
.
Lumajang, 20 Januari 2017 @21:07 WIB.

0 komentar