Sudah dua hari
aku terbaring. Sudah lama memang aku ga sakit. Sudah lama pula niat
untuk bekerja di hari libur tumbuh dalam benakku. Aku telah membuat beberapa
options di liburan kali ini. Antara lain: Les, organisasi, melanjutkan novel, belajar
materi semester tiga, atau bekerja.
Untuk saat ini option
pertama rasanya tidak bisa direalisasikan mengingat harus menggali kocek.
Masalahnya, kocekku sama sekali tak bisa digali. Meminta pada orang tua? Ah,
aku terlalu sungkan dan tak mau menyusahkan mereka. Aku akan belajar sendiri
saja dulu.
Pilihan kedua
yaitu organisasi. Menjadi panitia untuk diklat mahasiswa baru. Kedengaran
begitu menyenangkan. Namun untuk saat ini akan sangat sulit bagiku. Rapat yang
katanya rata-rata dilakukan di malam hari. Sementara aku pulang ke rumah yang
perjalanannya mmakan waktu sat jam setengah paling lama. Belum lagi aku tak
ingin menyusahkan teman – teman yang banyak menawarkan kos mereka untukku
menginap. Aku sangat ingin berorganisasi semacam itu. Aku ingin sekali mengeruk
banyaka ilmu dan pengalaman. Semoga bisa di semester lima nanti.
Melanjutkan
novel yang ku buat sendiri. Meski secara asal-asalan, aku berdoa semoga novel
itu benar-benar bisa rampung dan diterbitkan. Hehe, hayalanku ada-ada saja.
Pilihan ketiga ini belum dapat ku wujudkan karena mood yang kurang
memadai. Beda lagi kalau pilihannya membaca novel. Akan ku terima tanpa ampun.
Belajar. Adalah
hal yang begitu mulia. Aku kesampingkan dulu deh. Hehe. Aku beralih pada
pilihan terakhir. Dengan awalan yang sama. Bekerja. Em.. bagus juga pikirku.
Aku ingin punya pengalaman bekerja. Meskipun bukan untuk pertama kalinya. Ya,
aku pernah bekerja sebagai pramusaji selama tiga hari di sebuah rumah makan.
Hanya selama itu aku dibutuhkan, karna rumah makan yang ramai pada event itu.
Aku juga pernah menjahit seragam sekolah di sekolah dan di kediaman guruku selama
kurang lebih setahun. Aku namai bekerja karena memang aku dibayar untuk itu. Namun
aku ingin punya pengalaman yang lain.
Setelah sebulan
liburan kuhabiskan dirumah. Berpuasa di bulan ramadhan. Sebulannya lagi aku
bertekad untuk bekerja. Bekerja di daerahku jika dihitung dengan ongkosnya akan
terasa kurang pas. Maka ku putuskan untuk hijrah ke luar kota bersama kakak
perempuanku yang sudah berpengalaman. Dia bekerja paruh waktu untuk membiayai
hidupnya di Surabaya. Sementara biaya semesteran, kakak laki-lakiku yang punya
andil.
Melihat
kondisiku yang masih begitu lemas karena demam yang menyerang sebagai efek
amandel yang ku derita, ibu tak mengijinkan tekadku itu. Aku bersikeras
membujuk beliau bahwa anaknya akan baik baik saja.
Akhirnya dalam
keadaan yang memulih aku bersama kakak perempuanku berangkat ke luar kota. Kota
pahlawan. Surabaya.
***
Bangkalan, 22nd July, 2015
Sore menghantarkan
kami berangkat ke Surabaya demi mewujudkan keinginan. Aku ingin memdapat
pengalaman di bidang ini. Bus melaju cukup kencang. Sekencang degup jantungku.
Aku senang sambil merapalkan doa supaya semuanya akan lancer-lancar saja.
Surabaya, 23rd July, 2015
Pagi pertama di Surabaya. Aku hanya
bisa berdoa. Semoga mimpi menjadi nyata. Nanti aku dan mbakku akan
melamar kerja di sebuah mall. Semoga besok bisa langsung bekerja.. Semoga ini
menjadi salah satu anak tangga yang menghantarkanku ke puncak mimpiku: Belajar
ke negeri orang! Aamiin. Sungguh, Allah Maha Mendengar dan Maha Pengabul.
Hem… Hangatnya sinar mentari menerpa
wajahku dengan lembut. Waktu dhuha pun segera disambut.
Surabaya,
24th July, 2015
Suaraku serak setelah tadi malam
batuk. Batuk pertamakalinya di tahun ini. Namun yang taka kalah penting dan
genting adalah aku masih belum dapat pekerjaan. Kita sudah berkeliling mall
seharian. Tiga surat lamaran sudah disebar, namun belum ada kabar.
Surabaya,
25th July, 2015
Masih menunggu jawaban, apa ada yang
mau menerimaku atau tidak. Yang jelas hari ini sudah berkeliling mall lagi dan
menebar lamaran. Oh tuhan! Aku bingung. Beginikah susahnya mencari kerja? Hanya
kepada-Mulah hamba memohon pertolongan.
Surabaya,
26th July, 2015
Allah memang Maha
Pengabul. Setelah dipanggil dan wawancara hari ini aku langsung bekerja. Karena
sangat butuh karyawan akhirnya aku diterima meski hanya sebulan. Aku bekerja
sebagai satu-satunya SPG di salah satu stant baju bayi dan balita di Mall
tersebut. Hari pertama bekerja, satu kesimpulannku: Menimba ilmu lebih
menyenagkan dari apapun! Semoga Allah berkenan mengabulkan mimpi-mimpiku.
Aamiin.
Surabaya, 29th July, 2015
Aku harus kuat!
Surabaya, 13rd Agust, 2015
Banyak pengalaman
kern selam disini. Mulai dari peraturan toilet yang aneh, wudhu’ harus ke
janitor yang menyebalkan, disemprot petugas cleaning service yang super sok,
petugas management yang jutek, dan masih banyak lagi. Tapi yang paling keren ya
hari ini. Rolling doornya macet. Bikin ke greget! Alhasil harus ke management,
ke petugas yang terkenal garang itu. Tapi aku tidak takut.
Akhirnya petugas
yang menangani masalah seperti ini datang juga. Petugasnya begitu baik. Seorang
lelaki paruh baya yang kebapakan. Beliau bersedia menjawab pertanyaanku yang
bertele-tele. Aku memang tak mau kejadian ini terulang lagi. Lagi-lagi bukan
karna aku takut!
Surabaya, 22nd Agust, 2015
Ketiduran
selama beberapa menit ternyata tidak membuat sistem pengendalian emosiku
bergeser. Aku ingat punya tugas baru hari ini.
Dengan ekspresi yg masih menahan kantuk kutanggapi orang berseragam itu dg biasa
meski nada bicaranya seakan ngajak ribut. Bersungut2.
Setelah menerima tanggapanku, wajah beliau kembali netral lg saat awalnya sempat seperti kepiting rebus. Bahkan agaknya beliau berusaha menutupi rasa malunya dg info yg diulang2 walaupun aku telah mengakhiri pembicaran dg kata terima kasih.
Setelah menerima tanggapanku, wajah beliau kembali netral lg saat awalnya sempat seperti kepiting rebus. Bahkan agaknya beliau berusaha menutupi rasa malunya dg info yg diulang2 walaupun aku telah mengakhiri pembicaran dg kata terima kasih.
"Maaf,
anda orang aneh (aneh karna kelebihan porsi emosi grin emotikon ) kesekian yg sy hadapi disini.
sekarang, menghadapi macanpun rasanya aku siap," aku berandai.
"Hei..hei sombong betul kau ini. bukankah itu karna Allah yg menuntunmu?" nuraniku menasehati.
"Hehe.. kamu benar. Dia sllu bersama hamba2Nya. Dia bahkan lebih dekat dr urat nadi kita sendiri." malu2 ku jawab dalam hati.
"Hei..hei sombong betul kau ini. bukankah itu karna Allah yg menuntunmu?" nuraniku menasehati.
"Hehe.. kamu benar. Dia sllu bersama hamba2Nya. Dia bahkan lebih dekat dr urat nadi kita sendiri." malu2 ku jawab dalam hati.
***
"Hasilnya nanti jam 3 ya," suara pak satpan yg lembut spt kapas memecah lamunanku.
"Terima kasih." tanggapanku masih biasa.
"Hasilnya nanti jam 3 ya," suara pak satpan yg lembut spt kapas memecah lamunanku.
"Terima kasih." tanggapanku masih biasa.
Surabaya, 23rd Agust, 2015
Alhamdulillahi
Rabbil ‘Alamiin..
Terimakasih yaa Allah atas daya dan kekuatan yang engkau beri
hingga hamba bisa bertahan hari ini. Ini adalah hari terakhirku bekerja.
Sebenarnya tanggal dua lima. Namun karena jatah libur diambil di akhir sesuai
perintah bos, akhirnnya hari inilah hari terakhir aku bekerja. Yippiey!
Alhamdulillah..
Sumber Gambar: http://online.hillbrook.qld.edu.au/course/view.php?id=124

0 komentar