Let’s Work!


Sudah dua hari aku terbaring. Sudah lama memang aku ga sakit. Sudah lama pula niat untuk bekerja di hari libur tumbuh dalam benakku. Aku telah membuat beberapa options di liburan kali ini. Antara lain: Les, organisasi, melanjutkan novel, belajar materi semester tiga, atau bekerja.
Untuk saat ini option pertama rasanya tidak bisa direalisasikan mengingat harus menggali kocek. Masalahnya, kocekku sama sekali tak bisa digali. Meminta pada orang tua? Ah, aku terlalu sungkan dan tak mau menyusahkan mereka. Aku akan belajar sendiri saja dulu.
Pilihan kedua yaitu organisasi. Menjadi panitia untuk diklat mahasiswa baru. Kedengaran begitu menyenangkan. Namun untuk saat ini akan sangat sulit bagiku. Rapat yang katanya rata-rata dilakukan di malam hari. Sementara aku pulang ke rumah yang perjalanannya mmakan waktu sat jam setengah paling lama. Belum lagi aku tak ingin menyusahkan teman – teman yang banyak menawarkan kos mereka untukku menginap. Aku sangat ingin berorganisasi semacam itu. Aku ingin sekali mengeruk banyaka ilmu dan pengalaman. Semoga bisa di semester lima nanti.
Melanjutkan novel yang ku buat sendiri. Meski secara asal-asalan, aku berdoa semoga novel itu benar-benar bisa rampung dan diterbitkan. Hehe, hayalanku ada-ada saja. Pilihan ketiga ini belum dapat ku wujudkan karena mood yang kurang memadai. Beda lagi kalau pilihannya membaca novel. Akan ku terima tanpa ampun.

Belajar. Adalah hal yang begitu mulia. Aku kesampingkan dulu deh. Hehe. Aku beralih pada pilihan terakhir. Dengan awalan yang sama. Bekerja. Em.. bagus juga pikirku. Aku ingin punya pengalaman bekerja. Meskipun bukan untuk pertama kalinya. Ya, aku pernah bekerja sebagai pramusaji selama tiga hari di sebuah rumah makan. Hanya selama itu aku dibutuhkan, karna rumah makan yang ramai pada event itu. Aku juga pernah menjahit seragam sekolah di sekolah dan di kediaman guruku selama kurang lebih setahun. Aku namai bekerja karena memang aku dibayar untuk itu. Namun aku ingin  punya pengalaman yang lain.
Setelah sebulan liburan kuhabiskan dirumah. Berpuasa di bulan ramadhan. Sebulannya lagi aku bertekad untuk bekerja. Bekerja di daerahku jika dihitung dengan ongkosnya akan terasa kurang pas. Maka ku putuskan untuk hijrah ke luar kota bersama kakak perempuanku yang sudah berpengalaman. Dia bekerja paruh waktu untuk membiayai hidupnya di Surabaya. Sementara biaya semesteran, kakak laki-lakiku yang punya andil.
Melihat kondisiku yang masih begitu lemas karena demam yang menyerang sebagai efek amandel yang ku derita, ibu tak mengijinkan tekadku itu. Aku bersikeras membujuk beliau bahwa anaknya akan baik baik saja.
Akhirnya dalam keadaan yang memulih aku bersama kakak perempuanku berangkat ke luar kota. Kota pahlawan. Surabaya.
***
Bangkalan, 22nd July, 2015
            Sore menghantarkan kami berangkat ke Surabaya demi mewujudkan keinginan. Aku ingin memdapat pengalaman di bidang ini. Bus melaju cukup kencang. Sekencang degup jantungku. Aku senang sambil merapalkan doa supaya semuanya akan lancer-lancar saja.
Surabaya, 23rd July, 2015
            Pagi pertama di Surabaya. Aku hanya bisa berdoa. Semoga mimpi menjadi nyata. Nanti aku dan mbakku akan melamar kerja di sebuah mall. Semoga besok bisa langsung bekerja.. Semoga ini menjadi salah satu anak tangga yang menghantarkanku ke puncak mimpiku: Belajar ke negeri orang! Aamiin. Sungguh, Allah Maha Mendengar dan Maha Pengabul.
            Hem… Hangatnya sinar mentari menerpa wajahku dengan lembut. Waktu dhuha pun segera disambut.

Surabaya, 24th July, 2015

            Suaraku serak setelah tadi malam batuk. Batuk pertamakalinya di tahun ini. Namun yang taka kalah penting dan genting adalah aku masih belum dapat pekerjaan. Kita sudah berkeliling mall seharian. Tiga surat lamaran sudah disebar, namun belum ada kabar.

Surabaya, 25th July, 2015

            Masih menunggu jawaban, apa ada yang mau menerimaku atau tidak. Yang jelas hari ini sudah berkeliling mall lagi dan menebar lamaran. Oh tuhan! Aku bingung. Beginikah susahnya mencari kerja? Hanya kepada-Mulah hamba memohon pertolongan.

Surabaya, 26th July, 2015

            Allah memang Maha Pengabul. Setelah dipanggil dan wawancara hari ini aku langsung bekerja. Karena sangat butuh karyawan akhirnya aku diterima meski hanya sebulan. Aku bekerja sebagai satu-satunya SPG di salah satu stant baju bayi dan balita di Mall tersebut. Hari pertama bekerja, satu kesimpulannku: Menimba ilmu lebih menyenagkan dari apapun! Semoga Allah berkenan mengabulkan mimpi-mimpiku. Aamiin.
Surabaya, 29th July, 2015
            Aku harus kuat!
Surabaya, 13rd Agust, 2015
            Banyak pengalaman kern selam disini. Mulai dari peraturan toilet yang aneh, wudhu’ harus ke janitor yang menyebalkan, disemprot petugas cleaning service yang super sok, petugas management yang jutek, dan masih banyak lagi. Tapi yang paling keren ya hari ini. Rolling doornya macet. Bikin ke greget! Alhasil harus ke management, ke petugas yang terkenal garang itu. Tapi aku tidak takut.
            Akhirnya petugas yang menangani masalah seperti ini datang juga. Petugasnya begitu baik. Seorang lelaki paruh baya yang kebapakan. Beliau bersedia menjawab pertanyaanku yang bertele-tele. Aku memang tak mau kejadian ini terulang lagi. Lagi-lagi bukan karna aku takut!
Surabaya, 22nd Agust, 2015
            Ketiduran selama beberapa menit ternyata tidak membuat sistem pengendalian emosiku bergeser. Aku ingat punya tugas baru hari ini.
Dengan ekspresi yg masih menahan kantuk kutanggapi orang berseragam itu dg biasa meski nada bicaranya seakan ngajak ribut. Bersungut2.
Setelah menerima tanggapanku, wajah beliau kembali netral lg saat awalnya sempat seperti kepiting rebus. Bahkan agaknya beliau berusaha menutupi rasa malunya dg info yg diulang2 walaupun aku telah mengakhiri pembicaran dg kata terima kasih.
"Maaf, anda orang aneh (aneh karna kelebihan porsi emosi grin emotikon ) kesekian yg sy hadapi disini. sekarang, menghadapi macanpun rasanya aku siap," aku berandai.
"Hei..hei sombong betul kau ini. bukankah itu karna Allah yg menuntunmu?" nuraniku menasehati.
"Hehe.. kamu benar. Dia sllu bersama hamba2Nya. Dia bahkan lebih dekat dr urat nadi kita sendiri." malu2 ku jawab dalam hati.
***
"Hasilnya nanti jam 3 ya," suara pak satpan yg lembut spt kapas memecah lamunanku.
"Terima kasih." tanggapanku masih biasa.

Surabaya, 23rd Agust, 2015
            Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamiin..

Terimakasih yaa Allah atas daya dan kekuatan yang engkau beri hingga hamba bisa bertahan hari ini. Ini adalah hari terakhirku bekerja. Sebenarnya tanggal dua lima. Namun karena jatah libur diambil di akhir sesuai perintah bos, akhirnnya hari inilah hari terakhir aku bekerja. Yippiey! Alhamdulillah..

Sumber Gambar: http://online.hillbrook.qld.edu.au/course/view.php?id=124

0 komentar