Aku Tidak Mau Menjadi Guru dan Aku Tidak Butuh Murid


Kian kesini aku kian merasa, bahwa memang aku tidak mau menjadi guru yang ditakuti, disungkani. Aku ingin menjadi teman belajar, yang kemudian saling menghargai dan bisa saling belajar. Bisa saling memperoleh pelajaran, mendapatkan esensi pembelajaran dalam arti luas.

Pun, aku tidak butuh murid yang banyak. Satu saja sudah sangat cukup, yang terpenting betul-betul niat. Kalau hanya belajar bahasa Inggris, bagiku tak perlu dipaksa. Meskipun betul, ia tidak kalah penting dengan ilmu lainnya.

Sejatinya, alhamdulilah aku tidak berambisi punya murid banyak dan meraup banyak keuntungan. Dengan membuat brosur, aku tidak berekspektasi macam-macam. Harapanku bisa mengajar 1 sd 3 orang saja. Tapi betul-betul niat dari diri sendiri, sekali lagi tanpa dipaksa. Namun satu pun juga tidak masalah.

Sebab mengajar yang asal mengajar itu bisa, tapi dengan metode tertentu itu butuh latihan, dan pengalaman. Tapi aku kemudian tidak bilang, jika orang dengan murid banyak = tidak ahli. Ingat, orang itu beda-beda. Beda dalam segi memandang kehidupan, dll. Sangat kompleks.

Dulu aku sempat beberapa minggu mengajar secara GRATIS. Sampai belasan siswa. Tapi ya begitu, murid juga kadang kurang disiplin. Mungkin karena kurang ada "ikatan" dan rasa tanggung jawab. Yang satu tidak masuk yang lain akhirnya ikutan. Guru pun juga kurang ada trigger yang besar untuk betul-betul niat merancang dan berinovasi. Hehe, ini personal experience saja.

Atas ketidakdisiplinan itu sampai aku bertanya dalam hati, mungkin cara mengajarku salah, kurang tepat. Sampai ada momen, ada seorang ibu yang menyampaikan: Anaknya mau tetap les, tapi ternyata temannya tidak masuk, padahal suka caraku mengajar, katanya. Anaknya masih SD kelas dua mungkin. Ini betul-betul membuat aku yang awalnya merasa sangat rendah diri----karena level  mengajar anak kecil bagi saya yang paling sulit-----menjadi lebih percaya diri dengan apa yang disampaikan ibu tersebut. Dan pernyataan itu disampaikan anak kecil.

Semoga dijauhkan dari ujub, tapi biasanya jika yang menyampaikan hal tersebut adalah muridku yang berusia 20 tahunan ke atas, tak terlalu mengena bagiku, namun tetap ku amin-kan juga supaya menjadi doa. Intinya, aku selalu ingin kelas yang fokus. Tak usah banyak-banyak, asal niat, konsisten dan punya tekad yang besar.

Juga, alhamdulillah semenjak aku memberanikan diri untuk mengambil studi S2 dengan kocek pribadi, aku jadi kian sadar, bahwa INVESTASI LEHER KE ATAS itu sangat perlu. Sejujurnya, dari awal nominal UKT sekian per semester itu sangat murah bagiku (meskipun aku tertatih membayarnya, tapi betul-betul itu sangat murah bagiku). Alhamdulillah pikiranku jadi kian terbuka.

Aku sangat bersyukur bertemu dengan guru yang masya Allah, tidak hanya melulu materi kelas tapi pembelajaran kehidupan yang didapat juga aslinya tidak murah.Bertemu dengan teman angkatan yang luar biasa tapi humble-nya masya Allah. Sangat menginspirasi kita untuk berusaha memiliki karakter padi.

Lalu, aku juga tidak berambisi membuat anak oramg pintar dan jago bahasa Inggris. Minimal bagiku, mereka bisa dilatih untuk punya daya critical thinking sejak dini. Syukur-syukur bisa belajar mengenal Tuhannya. Sebab apapun ilmunya, aku kira muaranya selalu satu: pada Allah SWT.

Tapi again, manusia itu kompleks dan punya pilihan sendiri. Sangat tidak adil rasanya mendikte dan menyamaratakan. Yang ada, kita harus saling menghargai. Pilihan kita kalau kemudian mau mengajari anak kita sendiri, misal. Kita sudah lama merdeka. Maka hiduplah BERDAULAT. Satu lagi, tidak mau melihat orang lain bertumbuh adalah penyakit hati yang sangat penting untuk kita PERANGI. Tolong, doakan dan bilang pada diri kita untuk tidak menormalisasikannya. Semoga Allah SWT senantiasa mendamaikan, menata dan membimbing hati kita 💕

0 komentar