Kita Tak Sedekat Dulu
‘’Kita tak sedekat dulu’’, seakan itu yang ingin Tuhan ucapkan padamu, kala hidupmu mulai menemui banyak ujian ataupun cobaan. Wallahua’lam. Kita tidak pernah benar-benar tahu takaran kebaikan, takaran pahala, takaran kedekatan, dan takaran lainnya. Bagiku, kita sama sekali tidak pernah benar-benar mengetahuinya.
Bahkan saat kemudian kita dihadapkan untuk mengkategorikan apa-apa yang terjadi di hidup kita, kita pun tidak pernah benar-benar tahu apakah kejadian itu masuk ke dalam ujian atau cobaan. Sehingga, pada peristiwa yang dialami diri sendiri pun kita tak berani menghakimi, apalagi pada orang lain.
Namun yang pasti, penting untuk berkontemplasi, mengintrospeksi diri sendiri, bermuhasabah. Lagi, hal semacam ini tak perlu dilakukan dan mungkin diketahui orang lain. Cukup diri kita saja dan Tuhan.
Hal yang juga tak pernah benar-benar kita tahu adalah apakah kedekatan itu bisa diraih hanya cukup dengan ibadah ritual saja, atau juga spritual dan sosial. ini hanya pendapat pribadi saja, karena mungkin akan berbeda lagi ulasannya jika ditulis oleh orang yang berilmu atau orang yang kerap mengaji (baca: belajar). Namun bagiku, tetap saja akan berbeda, saat kita mampu menyempatkan diri untuk membaca al-Quran (walau hanya sedikit) setiap hari dibanding dengan yang lupa dengan kitabnya.
Akan berbeda orang yang menjaga sholat dengan yang tidak. Orang yang mau belajar memperbaiki sholat dengan yang tidak. Orang yang belajar mendisiplinkan untuk sholat sunnah dengan yang tidak. Orang yang mau menyempatkan sesekali berdzikir panjang dengan yang tidak. Orang yang berpuasa dengan yang tidak. Dan lain sebagainya. Sehingga seiring berjalannya waktu, secara spritual dan sosial pun juga bisa diimbangi.
Setidaknya, jika kemudian kita kian dipahamkan maksud dari ritual-ritual yang sebetulnya tak sebatas ritual itu, kita setidaknya akan meraih ketentraman jiwa. Dengan mengingat Allah SWT, hati akan menjadi tenang, begitu dalam al-Quran. Tapi, kata “setidaknya“ itulah yang kemudian membuatnya terlihat menjadi nikmat kecil, yang padahal sangat besar adanya, sangat besar dampaknya, sangat besar pengaruhnya bagi sebagian besar perubahan di hidup kita. Benar saja, karena pusat dari setiap produktivitas kita adalah jiwa dan pikiran.
Meski pengetahuan kita ama terbatas dan memang tidak pernah betul-betul tahu ganjaran atas kedekatan itu. Namun tetap saja, kedekatan itu harus dibangun, segera dibangun, atau dibangun kembali, walau tertatih-tatih. Sebab siapa lagi yang bisa menjadi sandaran di dunia ini? Keluarga, teman, bahkan dirimu sendiri adalah fana, berubah-ubah dan lemah. Jelas kamu membutuhkan dzat yang kokoh.
Karena walau ganjaran dari kedekatan itu adalah ujian, kamu akan dituntun untuk sanggup naik tingkatan. Sedang jika ganjarannya adalan cobaan, kamu akan dipapah untuk sanggup bangkit dari setiap keterpurukan. Jadi semoga, kamu mau mengindahkan kalimat ‘’Kita tak sedekat dulu’’ itu dengan ragam aksi yang sejatinya bermanfaat untuk dirimu.
0 komentar