Tidak Butuh yang Palsu
Judulnya bikin geleng-geleng kepala. Supaya seperti headline berita-berita, hehe. Padahal, ya hanya ingin bercerita. Tentang pengalamanku pagi itu. Kala mendapati sepasang suami istri yang dulunya sama-sama sehat. Tampan, gagah dan 'jelita' di usia mudanya.
Kini keduanya sudah menua. Suaminya sakit. Total tidak bisa bekerja. Memang sudah saatnya rehat. Sedang sang istri, meski tak sekuat dulu, masih bisa merawat sang suami dengan penuh cinta. Aku yang kala itu diminta ibu untuk sebuah keperluan ke kediaman beliau dibuat tertegun sejenak.
Aku lalu mulai berpikir. Betapa cepat waktu berlalu, betapa manusia bisa berubah, yang dulu sehat bisa sakit, yang dulu muda sekarang tua. Betapa---kata orang---rasa cinta juga bisa hilang. Tapi tidak dengan kasih sayang dan komitmen, katanya. Maka barangkali itu yang membuat manusia bisa berbuat baik terus, tanpa "tapi."
Berbuat baik pada anak, orang tua, suami, istri, saudara, dan lainnya. Meski aku mengerti, bahwa doanya pasti selalu sama: diberikan kesehatan sepanjang masa. Namun pada akhirnya momen itu membuat aku berpikir lagi. Bahwa, seperti apa orang yang kamu inginkan. Sungguh, kita tidak butuh yang palsu. Sebab di dunia tipu-tipu, selain Tuhan, keluarga adalah tempat untuk bertumpu.
Atau aku balik kalimatnya. Apakah kamu bisa menjadi orang yang tidak palsu? Menjadi sosok yang baik walau waktu terus berlalu. Sebab orang tidak butuh yang palsu. Ini yang kemudian mengingatkanmu juga, bahwa kerap kamu lupa: keluarga yang menerima kamu apa adanya. Maka selain bersyukur, banyak-banyaklah belajar darinya. Hmm.
0 komentar