Cinta yang Tulus
Dulu aku benar-benar mempertanyakan, benarkah ada cinta yang tulus?
Sebab biasanya, cinta yang seperti itu tidak mengenal kata "tapi" apalagi akal bulus.
Ia datang dari Yang Maha Suci. Maka ia betul-betul putih.
Apapun alasannya, harusnya tidak dinodai. Sebab paham, bahwa sumbernya amatlah agung dan barangkali bahan untuk menguji. Betul, anak, istri, suami dan lain sebagainya pada akhirnya hanyalah tipuan dan ujian. Begitu kira-kira kalau kita ingat-ingat kembali.
Dulu aku juga berpikir, bahwa pertanyaan “Sudah makan?” hanyalah bentuk basa-basi.
Bukti kalau tidak ada kreativitas untuk merangkai pertanyaan yang lebih baik dan bervariasi.
Tapi kini aku benar-benar menyadari, bahwa itu adalah pertanyaan paling menyentuh di muka bumi, yang mencakup segala sendi.
Itulah kenapa Ibu tidak pernah bosan melontarkannya padaku, bahkan lebih dari tiga kali sehari.
Ibu paham, barangkali dengan makan, salah satunya, kita bisa memperoleh energi.
Lalu kemudian dapat beraktivitas dengan baik, jangan sampai jatuh sakit.
Dulu aku pun berpikir, bahwa pertanyaan “Lagi ngapain?” adalah pertanyaan paling mainstream.
Bagiku, apa pentingnya tahu urusan orang lain? Kenapa tidak fokus pada kesibukan sendiri saja.
Tapi ternyata itu bukan sekadar pertanyaan penasaran saja, melainkan bentuk kepedulian yang amat tinggi.
Itulah kenapa Ibu tidak pernah absen menanyakan itu hampir saban hari di ponsel, seolah mengintrogasi kakak perempuanku.
Atau bertanya padaku saat aku berada jauh darinya, di Kediri dulu.
Beliau benar-benar ingin tahu apa saja kegiatan anaknya sampai begitu lama tidak memberi kabar, hingga lupa waktu.
Omong - omong tentang kabar, pertanyaan "Bagaimana kabarnya?" juga terbaca super duper aneh bagiku. Maksudku, jawabannya seringkali tidak menjamin kejujuran. Bisa jadi dijawab "Sehat" padahal sedang "Sakit". Jadi bagiku yang sebetulnya tidak suka basa basi, ada baiknya bertanya kabar dengan silaturahmi. Atau jika tidak sempat, doakan saja. Semoga kesehatan selalu menyertai.
Namun ternyata, menanyakan kabar memang bentuk perhatian tak ternilai. Karena penanya mengerti bahwa nikmat sehat adalah kunci yang begitu berharga. Kenikmatan yang sering terlupa, namun tiada duanya.
Begitulah sedikit bahasa cinta yang aku pelajari. Banyak sekali yang tidak bisa aku tuliskan. Seperti, "Sudah kamu capek, biar ibu saja." Dan lain sebagainya. Walau kadang bisa ditujukkan dengan bahasa sebaliknya, aku benar-benar belajar cinta yang begitu tulus dari ibu. Yang tidak mengenal alasan sama sekali. Yang tetap mencintai saat aku busuk atau pun dikala aku wangi.
Ibu tidak pernah pergi. Dia selalu ada. Doanya selalu membersamai. Senyumnya senantiasa menyejukkan sanubari. Tampa pamrih, beliau tak perlu dipaksa untuk menyayangi. Tuhan memang betul-betul hebat, memberikan kita sosok dengan jiwa sepertinya.
Lalu, usai belajar, semoga kelak aku bisa memilki cinta setulus ibu. Tak harus sama, namun setidaknya aku selalu berdoa. Tak harus sama, namun setidaknya aku selalu berusaha. Tak harus sama, namun setidaknya aku selalu percaya pada takdir-Nya.
0 komentar