Menghapus Followers

Pada Desember 2020, aku memutuskan menghapus semua followers dan following-ku di akun ini (Instagram) dan hanya menyisakan lima puluh akun olshop. Entah apa maksudnya. I mean, maksud dari menyisakan akun-akun online shop itu. Sebab aku paham betul mengapa aku kemudian menghapus kebanyakannya.

Sampai hari ini, bagiku, setiap yang bernyawa masih terus berprogres. Ada pasang surut. Ada tanya-jawab. Berdialog dengan diri sendiri. Ini yang juga kerap aku lakukan. Salah satunya seperti, apakah benar aku mengabadikan catatan, momen, dan apapun itu karena Allah? Atau hanya karena egoku sendiri? Aktualisasi yang positif atau justru negatif?

Tentu pertanyaannya tak sesederhana dan sesedikit itu. Banyak sekali dialog yang akhirnya: Baiklah, cobalah mulai dari awal. Cobalah membuat album, diary, atau apapun itu tanpa pernah berharap like, comment, dan tetek bengeknya. Cobalah lagi belajar memurnikan niat, berawal dari hal yang---mungkin bagi banyak orang---begitu sepele ini.

______

Hari ini, aku sungguh tidak menyesali apa yang aku lakukan. Karena cara kecil itu mungkin bisa jadi salah satu jalan yang lapang (lagi dan lagi) agar aku tidak terlalu candu dengan gadget ataupun sosial media di dalamnya. Namun yang perlu aku garis bawahi adalah, networking itu penting, men-follow akun-akun kompeten juga bisa jadi sumber inspirasi. Tidak mungkin rasanya harus mengingat tiap alamat kala ingin menambah insight. Dan akupun telah menimbang itu sebelumnya. Belum lagi, teman-teman lama, teman-teman jauh yang dulu hanya terhubung lewat sosial media, kini cukup menetap dalam doa saja.

Begitu pula dalam kehidupan nyata. Tidak apa-apa jika harus membatasi circle. Tidak harus dipaksakan bila tak cocok. Jika memang tidak bisa membuatmu bertumbuh, kenapa harus tinggal? Maksudku, kitapun harus pandai menggali lagi makna 'bertumbuh'. Jangan malah makin 'berego'. WHAT ARE YOU TALKING ABOUT.

Ini sungguh bukan analogi yang kemudian menyimpulkan bahwa aku tak memiliki pertemanan yang baik dan mendukung di sosial media, maka hapus saja. Bukan. Justru banyak sekali yang (saling) mendukung. Aku hanya ingin belajar lepas dari: bergerak hanya karena sesuatu yang fana. Argh! Sungguh, teramat jauh keinginan itu dengan kondisi diri yang masih alpa. Hei, meski dengan merangkak, aku sungguh tak mengapa.

0 komentar