Jangan Dengarkan Mereka

Memang benar. Ada kalanya, pada banyak adegan kehidupan, kita perlu untuk benar-benar tidak mendengarkan orang lain. Semua ucapan dan tindakan yang mengarah pada kemorosotan kita. Sungguh, bukan ditujukan sebagai saran untuk kebaikan bagi pribadi kita yang sedang mencoba bertumbuh.

Orang lain. Iya, siapa pun itu. Orang yang kita kenal, atau bahkan orang dekat sekalipun. Apalagi orang yang belum pernah kita kenal dan mengenal kita. Tak perlu heran jika kemudian dengan mudah melontarkan hate speech. Karena kalau tujuannya ingin menjatuhkan--baik secara langsung maupun tidak--maka saat ngin bangkitpun mereka akan  mengira kita berlebihan. Saat kita terpuruk, bukannya memberi asupan semangat mereka malah mengutuk. Saat kita cerah, mereka justru gerah.

Mungkin pernah, orang-orang yang bahkan kita kagumi, orang-orang dekat, dan sebagainya justru meretakkan apa-apa yang sudah kita rintis dan bangun dengan susah payah. Entah itu berupa keyakinan, semangat, karya dan kawan-kawannya.

Bisa saja menurut mereka, itu hanya celetukan tak bermakna. Sedang bagi kita amat mendalam maksudnya. Bergentayangan di langit-langit kamar, berani-beraninya mengurangi jatah istirahat dari segala kepenatan. Karena itulah, jangan habiskan waktu dengan pikiran-pikiran tak mendesak. Jangan habiskan energi dengan hal-hal tak berarti. Jangan biarkan penat bertambah, lebih-lebih tak terhitung ibadah.

Padahal kita tidak pernah merasa bermasalah dengan hidup orang lain. Mereka senang, kita ikut bersuka cita. Bahkan meski tak pernah mengenal, selama yang dilakukan adalah kebaikan. Mereka terjatuh, kita ikut mendoakan meski hanya gemericik kecil di dalam hati. Mereka terlibat kabar miring, kita merasa tak perlu ikut campur memperkeruh, karena tak tahu betul.

Bisa jadi, opini yang sebenarnya kita ungkap dalam konteks yang sifatnya umum, disangka menyudutkan pribadi mereka. Dinilai ikut andil mengomentari entah itu cara bersikap, berpenampilan, dan lain sebagainya. Padahal sama sekali tidak demikian. Betul. Saat kita menulis A dalam cara pikir kita, orang atau mereka serta siapapun akan memiliki hasil tafsir mereka sendiri. Bisa terbaca B, C, dan seterusnya.

Tolong. Selama hidup, kita sama-sama belajar. Salah satunya untuk memahami bagaimana berpikir terbuka. Tidak hanya melihat satu hal dari satu sudut, yakni ego sendiri. Sebab seseorang yang kita ludahi itu butuh solusi, bukan malah dituduh lalu diracuni.

Kalau tebing yang dibangun sudah kokoh, kita akan tahan dengan mayoritas terpaan. Benar juga, ya. Sebelum bertanya siapa saja mereka. Baiknya kita tanya pada diri sendiri dulu. Jangan-jangan yang pertama kali menyusun narasi berbisa, menyumbangkan pikiran-pikiran buruk, busuknya keraguan dan bingkai pesimisme yang lambat laun mengakar adalah diri kita sendiri.

______

Lagi dan lagi, aku diceramahi diriku "yang lain". Kali ini dia bilang, "Ikutilah kata hatimu. Jangan dengarkan mereka. Fokuslah pada hatimu yang mungkin sedang sekarat. Pedulilah dengan kesehatannya, keberlangsungan hidupnya. Jangan biarkan dia mati, hingga kelak tak ada yang bisa kau dengar lagi."

Ah, jadi ingat penggalan tulisan dalam novel Jalan Cinta Para Pejuang karya Ustadz Salim. A. Fillah, "Setiap kemaksiatan yang kita lakukan menjadi noktah dosa yang menghitamkan hati. Awalnya nurani akan selalu mengirimkan tanda bahwa ia tersakiti. Tapi ketika hawa diperturutkan, dan maksiat terus dilakukan, diulang dan diulang, noktah-noktah dosa telah menjadi jeruji, membelenggu nurani hingga suaranya makin lirih. Padahal satu noktah dosa selalu mengundang teman-temannya. Hingga suatu ketika, hati mati rasa. "Hukuman terberat atas suatu dosa", kata Ibnul Jauzi dalam Shaidul Khathir, "Adalah perasaan tidak berdosa." Ya. Karena merasa tak berdosa adalah kain kafan yang membungkus hati ketika ia mati."

_______

Biar aku tulis disclaimer-nya: Perihal "dijatuhkan" tak melulu tentang seseorang yang sudah "berhasil" menurut definisi kebanyakan manusia. Sebab banyak yang dalam kondisi sedang tidak baik-baik saja, namun kian diinjak-injak. Walau penting untuk selalu diingat, bahwa Allah SWT akan selalu membersamai kita, kala yang lain memandang dengan ekor mata.

0 komentar