Sepenggal Kisah Ibu

Pagi itu aku pergi ke pasar lagi bersama ibu untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Ibu tidak sekuasa dulu berjalan kaki dengan jarak yang relatif jauh, bahkan meski hanya dari parkiran motor ke pintu utama pasar. Namun kali ini, kemuliaan hatinya mendorong ia mau tidak mau harus ke pasar untuk kepentingan orang lain tanpa mau diwakili. Jadilah aku ikut bersamanya. Sembari terbiasa menikmati suasana pasar yang sarat pesan, aku berjalan dibelakangnya, lebih tak kuasa sebenarnya melihat beliau berjalan tertatih dan perlahan. 

Hmm, waktu seolah melesat bak pacuan kuda. Bahkan lebih cepat, tidak terasa sebab sering membikin terlena. Lihat saja, ibu di usianya kini sudah tidak mampu berjalan lama-lama. Padahal rasanya seperti baru beberapa tahun lalu beliau mengerjakan apa saja, mengerahkan segenap tenaga, bahkan rela mengorbankan jiwanya sekalipun.

Benar, label beliau sejak dulu memang hanya seorang Ibu Rumah Tangga. Tapi sebenarnya yang beliau lakukan jauh daripada itu. Eits, aku mengatakan 'hanya' bukan karena merendahkan profesi mulia tersebut. Karena ibu memang tidak merangkapkan dirinya sebagai seorang guru, polwan, dokter, atau apapun secara formal. Tapi sekali lagi, bagiku beliau lebih daripada itu. Dan aku mengimani, setiap anak juga memiliki kesan mendalam terhadap orang tua mereka, apalagi seorang ibu.

Ibuku berasal dari keluarga yang sederhana. Merana. Mungkin kata itulah yang mendeskripsikan hampir dari sepanjang hidupnya saat kecil. Sejak kecil ibu sudah di tinggal pergi ibunya untuk melanjutkan hidup secara mandiri di dunia saat berusia sepuluh tahun. Saat itu seperti kebanyakan anak manusia, ia sangat memerlukan kasih sayang seorang ibu, tapi pena takdir menggoreskan warna tinta yang berbeda. Tapi baginya, beruntung selama sepuluh tahun ia dianugerahi kedua orang tua yang lengkap. Sampai akhirnya, Ayah yang menopang hidupnya menyusul mendiang sang istri.

Perih hati ibuku, menerima kenyataan yang menyedikan. Namun sewajarnya saja, sebab itulah hakikat kehidupan, yakni kematian. Ibu bukan wanita kecil yang lemah. Ia tetap melanjutkan hidup meski sulit menyalakan kembali api semangat yang sempat sirna. Berkat-Nya, ibu meneruskan jalan hidup yang kini semakin bertambah pelik, tinggal bersama nenek dan bibinya. Meski ia masih belia, ia tak mau diam memandangi kedua orang tua angkatnya itu bekerja.

Setiap hari ia memeras keringat, membantu mengerjakan hampir semua pekerjaan rumah: mencuci baju, memasak, menimba air, menyapu, bahkan menggiling padi dengan beban yang begitu berat. Belum lagi jaraknya yang jauh dan ditempuh hanya dengan berjalan kaki. Semua ia kerjakan demi meringankan beban nenek dan bibinya yang berdagang di pasar dan tidak pernah menuntut apapun pada mereka. Semangatnya seakan tak pernah surut, semua pekerjaan yang berat meski dengan tubuhnya yang kecil, dianggap ringan saja baginya. Kehidupan telah menempanya menjadi sosok yang memiliki mental, semangat dan optimisme menjalani hidup dengan baik.

Ibu tumbuh menjadi sosok gadis yang cantik, kulit cerah bersih, dan senyumnya manis. (Kata orang, cantik itu relatif. Jadi apa salahnya aku memuji ibuku sendiri dengan pendapatku, hehe). Namun sayangnya ia tak pernah mengenyam pendidikan formal lantaran eratnya rantai kemiskinan. Bibi dan neneknya juga tak terlalu mafhum dengan masa depan dan pentingnya pendidikan untuk seorang yang bergender perempuan. Sebab itu ibu hanya cukup dimasukkan ke pesantren untuk belajar mengaji dalam kurun waktu yang relatif singkat.

Masa bergulir. Ibu menikah dengan bapak dan memiliki delapan orang anak. Kesabaran yang ia tanam sejak kecil justru kian tumbuh subur. Tak perlu kujelaskan betapa sabarnya ibu mengaruhi lautan hidup. Biar Allah yang catat, itu sudah lebih dari cukup. Dengan melihat jalan hidupnya, bahkan mungkin sejak lahir hingga kini telah merefleksikan betapa beliau adalah wanita yang kuat dan penyabar. *musik sedih, please! hehe.

Berbeda dengan hidupku. Selain mendapati nikmat pendidikan, kehidupan nyaman, dan nikmat yang tak terhitung jumlahnya, aku memiliki kedua orang tua yang dianugerahi umur panjang hingga sekarang. Sungguh itu nikmat tak terbilang. Terlebih, kedua sosok itu bukan hanya memberikan sokongan besar di setiap fase hidupku, namun juga penuh dengan ketidakterhinggaan mozaik kisah dan kasih yang tidak penah bisa dinegasikan keindahannya.

Ternyata benar, kalau melihat bagaimana cara orang tua mengarungi hidup, pastilah membuat kita merenung dan merasa malu. Lantas bergumam dengan lirih, "Duh, betapa hebatnya mereka." Bagaimana tidak, kita mungkin serupa bocah ingusan dalam bertindak. Cepat mengeluh, cengeng, lekas menyerah dan mudah menggerutu. Bahkan bisa jadi ada bocah ingusan yang bersikap lebih dewasa daripada itu. Lalu bagaimana saat dihadapkan pada kerasnya kehidupan, sedang kita masih terus membiarkan diri bersikap dan bersifat kekanak-kanakan?

Tak apa, sebelum semuanya terlambat. Kita masih punya waktu untuk meneladani karakter orang-orang hebat. Orang-orang di sekitar kita, khususnya kedua orang tua. Atau tidak mesti orang sekitar, jika memang tidak mendukung untuk itu. Masih banyak role model dengan karya menggelegar, menggetarkan kalbu. Di tempat nun jauh sekalipun yang dengan kecanggihan teknologi, kisah dan eksistensinya bisa dengan mudah kita ketahui. Pun bisa kita pahami meski mereka telah lama pergi. Karena telah diabadikan lewat tulisan ribuan tahun silam. Jangan jauh-jauh ke sosok yang sulit dicerna pelafalan namanya, karena kita memiliki uswatun hasanah yang rekam jejaknya bukan saja mendunia. Dialah Muhammad SAW. Manusia penerang bak rembulan kala malam.

__________

Semoga memang belum terlambat. Semoga Ibu kembali sehat dan Bapak sehat selalu. Semoga kita lekas bergerak. Meneladani sosok-sosok inspiratif sehingga mampu membahagiakan kedua orang tua, terlebih keluarga dan banyak orang---kata doa klise yang sebenarnya pengamalannya amat berat: berguna bagi bangsa dan agama. Semoga tidak pernah lelah untuk senantiasa melantunkan doa, agar tidak hanya bersama di dunia dalam iman dan ketaqwaan, melainkan berkumpul juga di akhirat dengan rahmat dalam keabadian. Aamiin.



وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ.

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman : 14)


#backtoquran #kisahibu #kasih ibu #love 

0 komentar