Aku menggendong Nuh pergi ke luar rumah. Aku sudah kehabisan akal bagaimana menenangkannya yang menangis mencari sang Ibu. Beliau, Kakak Iparku tengah di rumah merawat Ibunya yang tengah sakit. "Buk...buk...buk..." Begitu terus. Bahkan Nuh menjerit-jerit di akhir kalimat panggilannya. Tak seperti dulu, Nuh kini paham jika malaikat tak bersayapnya itu sedang tak berada di sampingnya.
Aku sudah mencoba bercerita seperti apa yang biasa Mbak Lia lakukan. Meski tidak sekreatif Mbak Lia, Nuh ternyata berhasil terdiam dan mendengarkan cerita. Padahal bahasa dalam cerita hanyaku putar ulang saja. Maklum, usianya belum genap dua tahun. Sampai akhirnya, beberapa menit kemudian dia merengek kembali, memanggil orang yang setiap hari bersamanya. Disaat itulah aku memutuskan keluar rumah menggendong Nuh yang bobotnya Alhamdulillah bisa jadi ajang untuk fitnes.
Kami pun melihat orang dan hamparan sawah. Nuh berhenti menangis karena lebih memilih menyaksikan para petani yang sibuk menyiangi padi. Salah satu dari mereka justeru menanyakan pada Nuh, "Nuh... Tadi malam kemanaaa? Kok tidak beli Martabak?"
Pertanyaan itu diulang beberapa kali. Nuh hanya diam memperhatikan. Barangkali pikirnya, "Ini orang bicara apa, ya? Oh, kalo Martabak mah aku paham." Eh, Nuhnya kok jadi sunda gitu ya wkwk.
Pertanyaan itu diulang beberapa kali. Nuh hanya diam memperhatikan. Barangkali pikirnya, "Ini orang bicara apa, ya? Oh, kalo Martabak mah aku paham." Eh, Nuhnya kok jadi sunda gitu ya wkwk.
Aku pun hanya mampu menyengir. Meski kerap cerewet, aku sebenarnya seringkali bingung ingin berkomentar apa. Karena sebenarnya aku cenderung introvert dan malas berbicara pada banyak momen. Tapi aku kala itu berusaha membalas dengan tersenyum dan menyengir yang agaknya tidak terlihat juga karena para petani silau dengan Matahari yang seolah ada di belakang kami berdua, aku dan Nuh.
Di bawah sinar mentari yang hangat dan masih menyehatkan dengan angin sepoi nan sejuk, akhirnya Nuh mulai terlelap. Entah kenapa rasanya Nuh makin berat. Haha.
Di bawah sinar mentari yang hangat dan masih menyehatkan dengan angin sepoi nan sejuk, akhirnya Nuh mulai terlelap. Entah kenapa rasanya Nuh makin berat. Haha.
Setelah beberapa menit, aku pulang dengan langkah-langkah kecil agar Nuh tidak terbangun. Melewati pematang sawah, aspal, cericit burung-burung, belalang sembah, semak-semak yang tak jauh dari rumah dan seterusnya. Pelan. Sangat pelan. Tidak sampai-sampai. Nuh kian berat saja. Sementara itu rumah yang sudah ada di pelupuk mata seperti masih membutuhkan waktu yang lama untuk tiba disana.
Daaaaan, saat tiba ingin meletakkan Nuh di kasur, ia akhirnya merengek lagi dan terbangun. Aku pun mengendongnya lagi. Kemudian dia tidur lagi. Ku baringkan di kasur lagi. Dia merengek lagi. Ku gendong lagi. Dan begitu terus seperti kisah yang aku ceritakan pada Nuh sebelumnya, berulang-ulang seperti kaset rusak.
Tidak sampai setengah jam, khirnyaaaaaa Nuh tidak merengek lagi. Tepat pukul 09:45 WIB ia benar-benar tertidur di atas kasur. Aku tidak sempat membenarkan posisi bantal. Karena sudah kepalang meletakkan Nuh dengan posisi nyaman yang membuat ia tetap terlelap. Untung saja ada selimut yang terlipat kotak layaknya bantal, lebih empuk. Nuh juga tidur agak kepinggir. Sebenarnya ngin ku geser tapi khawatir akan bangun. Solusinya aku menjadi penjaga di sampingnya sembari menulis cerita ini.
Dalam hati aku bergumam, "Betapa banyak jasa Ibu, tak terhitung, tak mampu terbalas, tak terkata, indah tak terperi." Kemudian aku mengingat kembali, betapa banyak dosaku pada Ibu, padahal pengorbanannya tidak terhingga. Kasih sayangny tak berujung. Cintanya tak bertepi. Sedang yang aku lakukan hari ini pada Nuh hanyalah setitik kecil dari banyaknya masa dan perjuangan yang Ibu lakukan untukku.
O ya, kalaupun kamu diasuh Nenek, Bibi dll itu artinya sama saja, mereka seperti Ibumu juga. Yang mengasuhmu dengan penuh cinta. Maka mari muliakan mereka :)
0 komentar