Nasihat Berpikir Positif

Dr. Ibrahim Elfiky. Beliau pemilik perusahaan berskala internasional dan meraih 23 gelar diploma dari beberapa lembaga papan atas di bidang MSDM, marketing, manajemen, dll. Seorang yang juga Dirut di sebuah hotel bintang lima ini dijuluki sebagai pembicara terbaik dan berhasil melatih lebih dari 700.000 orang melalui seminar dan kegiatan lain yang di gelar di seluruh dunia dengan tiga bahasa, yakni, Inggris, Prancis dan Arab. Salah satu karyanya adalah sebuah buku yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, berjudul: Terapi Berpikir Positif. Dari buku tersebut, beliau mengajak pembaca untuk senantiasa berprasangka baik pada Allah dan selalu berpikir positif. Sebab Allah memberi sesuai dengan apa yang kita prasangkakan dan yakini. Kekuatan berpikir positif membuat seseorang mampu mengarungi segala bentuk rintangan yang ada dalam kehidupan dan mewujudkan seluruh impian baik yang mungkin bagi sebagian orang hanyalah sebuah kemustahilan. Beliau juga seolah terus mengingatkan pembaca bahwa ada Dzat yang mencintai kita melebihi apapun dan siapapun, yakni Allah SWT. Dengan membaca buku ini, saya juga melihat sosok Dr. Ibrahim yang dekat dengan Allah. Untuk itu saya jadi sedikit memahami, bahwa Allah akan memudahkan jalan menuju kesuksesan jika kita terus berikhtiar dan hanya berharap dan mendekat kepadaNya. Memahami penyampaian ilmu yang dilakukan dengan arif nan bijak, seketika membuat saya terhenyak dan kian penasaran dengan Rasul kita, Muhammad SAW. Rindu dengan manusia pilihan, yang sudah tidak perlu dijabarkan keahliannya. Allahumma sholli 'ala sayyidina muhammad!

---

Saya, Lutfiyah. Belum memiliki perusahaan, hotel bintang lima, juga gelar. Belum menjadi pembicara handal karena berbicara saat presentasi kelas saja masih belepotan, meski dalam bahasa Indonesia. Dengan segala hal yang belum saya miliki itu, kerap timbul untuk tidak update status di sosial media manapun kecuali ia bermanfaat. Bahkan, berhenti surfing di media sosial. Menurut saya, atas ijin Allah dan kemauan keras saya, saya amat berhasil menerapkannya pada IG, FB, BBM dan twitter (setiap orang mempunyai pilihan; sosmed untuk hiburan, jualan, dll). Tapi keingingan untuk selalu menasehati diri dan banyak orang kerap timbul. Akhirnya, saya aktif di WA dengan fitur barunya yang bisa mengupdate status. Meski kerap kali banyak postingan tidak jelas dan tidak penting yang saya bagikan, saya kerap berusaha membubuhkan pesan dan semangat di dalamnya. Itu (insyaAllah) didasari atas kecintaan saya karena Allah pada mereka, para pembaca status. Karena saya menyadari dan percaya jika orang sholih dan mushlih itu berbeda. Bagi saya, saya bukan keduanya. Karena memang, semua yang saya lakukan masih dengan keadaan diri yang bergelimangan kekurangan. Semoga Allah mengampuni setiap kekhilafan. Dan menjadikan kita hamba yang saling nasihat menasihati dalam kebaikan. Aamiin.🍃

0 komentar