Anak Tangga Kehidupan

Hidup itu seperti mengerjakan soal Matematika. Kalau kita sudah pernah ditempa dengan mengerjakan soal yang sulit, maka kita akan merasa lebih ringan saat mengerjakan soal yang gampang. Pun saat mengendarai motor.
Kalau sudah biasa dibuat ribet dengan mengendarai motor ukuran besar, maka rasanya ringan kala mengendarai motor dengan ukuran yang jauh lebih kecil.

Ingin secepatnya mendapat keringanan setelah berlama-lama ditempa dan bersusah payah? Hmm, tentu urusan kesuksesan, tentu tidak adanya yang namanya instan. Aku berani berkata demikian setelah menoleh kembali ke belakang. Ke sedikit perjuangan-perjuanganku di masa lalu. Mungkin bagi beberapa orang, cerita yang akan aku sampaikan akan terdengar biasa saja. Namun bagiku, tetap saja ini bisa jadi perjuangan yang akan selalu dikenang. Sebab apapun kesulitan dan perjuangan yang aku lalui waktu itu adalah sebuah latian untuk menuju hidup yang lebih baik dan penuh dengan tantangan yang lebih tinggi.

Aku percaya, Allah selalu memberikan tantangan karena kita akan mampu melewatinya untuk kemudian menghadapi tantangan selanjutnya, hingga kita bisa sampai di puncak kesuksesan nan hakiki. Tantangan demi tantangan itu dapat aku rasakan dari cerita sederhana beberapa tahun silam. Dulu, rasanya begitu berat harus sampai di sekolah pada jam lima pagi tepat untuk mengikuti praktik olahraga mengingat jarak rumah dengan sekolah yang bisa dikatakan lumayan jauh. Belum lagi pada jam sekian tidak ada angkutan  mobil carry yang biasa aku naiki melainkan sebuah mini bus yang karena bukan sejalur akhirnya hanya mampu mengantarkan sampai polres, bukan sekolah. Alhasil aku harus berangkat lebih pagi agar bisa berjalan selama sepuluh sampai lima belas menit dari polres ke sekolahku, MAN Model Bangkalan. Jika sedang beruntung, akan nada angkot yang melintas hingga aku tidak perlu berjalan. Namun sering kali aku berpikir, akan lebih baik jika aku berangkat lebih pagi dan berjalan kaki. Sebab selain bisa jalan sehat, aku juga akan menghemat beberapa peser rupiah. Sehingga alokasi dana yang tadinya aku canangkan untuk membayar ongkos angkot, dapat aku alihkan untuk membeli sebungkus sarapan setelah kelas usai. *hehehe, bahasanya wuih over.

Kala itu, begitu berat bagiku, karena sekolahku dulu (MTs Nurul Amanah) hanya ditempuh kurang dari lima belas menit. Di sana juga tidak pernah menerapkan aturan untuk berada di sekolah pada jam lima tepat. Jadilah aku benar-benar ditempa saat dulu bersekolah di MAN Model Bangkalan. Salah satunya untuk bisa mengatur waktu dengan baik agar tidak sampai terlambat di sekolah. Karena toleransi keterlambatan hanya lima menit. Aku akhirnya bangun sebelum adzan Subuh berkumandang. Tak jaranag aku sholat di masjid dekat polres, karena kerap berangkat sebelum adzan Subuh berkumandang. Aku juga acap kali mendapat mini bus yang ternyata masih bongkar muatan komoditas pertanian di pasar baru. Kalau sudah begitu, biasanya aku akan lebih rajin merapalkan doa agar tidak terlambat. Pembelajaran untuk hidup disiplin seperti itu sangat aku rasakan manfaatnya setelah aku lulus.

Setelah aku lulus dan melanjutkan studi di Universitas Trunojoyo Madura, aku pikir tidak akan ada lagi prosesi berangkat sekolah, eh maksudku berangkat kuliah di pagi buta. Ternyata, saat ospek fakultas aku harus tiba di kampus pukul setengah enam pagi. Sedang jarak rumah ke kampus adalah dua kali lipat dari jarak rumah ke sekolah aliyah dulu. Kali ini, bagaimana pun keadaannya aku selalu naik mini bus, meski pada akhirnya di-oper ke mobil carry saat sampai di polres. Karena ongkos mini bus jauh lebih murah dari ongkos mobil carry ke kampus. Aku juga perlu mengalokasikasikan waktu untuk perjalanan dari pertelon ke kampus, karena tidak ada angkutan umum menuju kesana kecuali becak. Lagi-lagi aku berpikir, jika ada baiknya berjalan saja sedang uang untuk naik becak disimpan atau dibelikan sarapan, sehingga uang yang awalnya untuk membeli sarapan bisa aku simpan. *hehehe. Biasanya aku mengalokasikan satu setengah jam perjalanan. Sepuluh menit untuk menyetop, lima puluh menit untuk perjalanan bus, tiga puluh menit untuk perjalanan dari pertelon ke kampus dan tiga puluh menit untuk cadangan karena kadang aku menghasikan waktu untuk menyetop bus selama lebih dari tiga puluh menit. Sering juga aku menghabiskan waktu tiga jam untuk menunggu bus pulang. Tapi semua itu insyaAllah bisa aku lewati, sebab sejak di MAN, semua pernah aku jalani. Termasuk berjalan kaki dengan jarak yang lumayan di bawah terik mentari.

Saat aku duduk di bangku MA, aku mendapatkan beasiswa belajar bahasa Inggris selama dua tahun. Kala itu aku mendapatkan kelas C3 di hari Selasa dan Jumat. Disanalah aku ditempa untuk berjalan kaki di bawa sengat matahari yang mampu menggelapkan warna kulit. Pelajaran ini, maksudku pelajaran berjalan kaki---bukan bahasa Inggris (Tapi lesnya juga berguna, kok)---ini sangat berguna saat aku pada akhirnya belajar di kampus. Maka aku bersyukur telah ditempa terlebih dahulu sampai kini bisa merasakan tantangan yang lebih tinggi hingga aku bisa melewati kuliah pengganti yang acapkali diganti di pagi hari atau malam hari.

Begitulah kehidupan, kita akan menaiki anak tangga yang lebih tinggi dari waktu ke waktu. Dengan begitu tantangan yang kita dapatkan juga akan lebih tinggi. tapi jangat takut, karena itu sudah konsekuensi, sebab kita punya mimpi. Jangan takut, kita punya Allah yang akan menggenggam mimpi kita dengan senang hati.

0 komentar