(Day 26) Lagi - lagi Curhat

"Abis acara, telat makan, pusing banget, makan beberapa suapan, metèdung, ga ikut rapat, bangun-bangun, pusing ilang, dibangunkan, rekaman, belum latian baca, suara masih dhungseng, bim salabin, well, belum packing buat besok. Tweng."

---

Acara malam perpisahan telah usai. Banyak yang menangis terharu, bahkan sampai sesenggukan. Akhirnya aku jadi tidak kuat memandang pemandangan demikian. Seolah ada beban yang membuat sungai kecil mengalir di ekor mataku, meski cepat-cepat berhasil aku hapus dan hentikan. Selain karena terbawa suasana, aku ikut menangis karena belum bisa memberikan yang terbaik untuk mereka semua, seluruh warga masyarakat Desa Langsar. Aku juga jadi terbayang hari-hari yang ku lewati dengan mereka, Bapak-bapak, Ibu-ibu, Adik-adik dan lain-lain yang dengan kebesaran hatinya menerima dan membantu kita dengan sukarela.

---
Kegiatan hari ini lumayan padat. Usai sarapan dan sedikit membantu PJ PDD, aku bergegas mandi dan sedikit membantu PJ Konsumsi. Kemudian, sedikit lama-lama menjadi bukit karena ternyata kami selesai masak hingga menjelang Isya' dan acara dimulai sekitar ba'dha Isya'.

Lalu aku tiba-tiba teringat pada teks pembawa acara yang belum aku rampungkan sepenuhnya. Nama-nama peserta lomba belum aku ketik, lantas print. Akhirnya aku mohon diri kepada yang tengah menghias tumpeng untuk kembali ke posko terlebih dahulu.

Suasana di posko cukup ramai. Semua sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Ada yang sholat Magrib, ada yang melakukan tahap finishing pada panggung, ada yang mengangkut air minum kemasan, dan lain-lain. Sedang aku berlari mengambil kertas dan meminjam sebuah laptop lantas memprint. Di bantu Syaiful, aku menyelesaikan teks dan berlatih sebentar, dengan Rima juga, patner MC. Kemudian aku diminta untuk bersiap-siap. Sementara Rima telah siap, aku berlari membawa perlengkapan untuk mandi. Dan yang lain berkata, "Udah, ga usah mandi. Waktunya udah mepet." katanya. Mereka beberapa juga demikian. Akhirnya aku meng-iyakan. Usai membasuh wajah, aku bersiap-siap meski sejatinya belum siap.

---

Kebisaan burukku jika terlalu dengan sibuk dengan kegiatan, aku bisa enggan untuk makan. Inilah yang membuat Ibu dan Bapak berulang kali mengingatkan saat di rumah. Sedang di kampus, aku bisa bebas, berpura-pura lupa meski seharian belum makan. Hehe. Akhirnya, kalau sudah dirasa badan mulai drop, aku akan makan lebih banyak dan lebih rajin dari biasanya. Kemudian sedikit asupan pola pikir berbunyi "Aku tidak akan sakit, aku sehat, aku tidak apa-apa" ampuh membuat tubuhku cepat kembali fit. Pun dengan hal lain, langkah awal kadangkala hanya bermula dari sebuah pola pikir. Perihal pola makanku yang kurang baik, jangan sekali-kali ditiru.

Aku kerap kali berkilah pada Ibu. Jika orang yang sering mengingat mati akan sedikit makannya, bahkan cenderung lupa dan berpuasa. Berpuasa makan amat sedikit atau hanya minum, bukan berpuasa dalam artian sebenarnya. Mereka lebih sibuk menyiapkan akhirat. Tapi Ibu selalu punya jawaban yang bikin skakmat. Akhirnya aku dengan sepenuh hati akan meninggalkan tugas kuliah, menuju dapur yang letaknya beberapa langkah dari rumah.

Akhirnya, telat makan membuat kepalaku tiba-tiba pusing. Benar-benar pusing. Kemudian setelah memakan nasi tumpeng kuning sisa acara perpisahan sebanyak tiga suapan, aku bergegas metèdung, (Pergi tidur, Red.). Aku tidak sempat membantu yang lain merapikan panggung dan lain-lain. Juga tidak mengikuti rapat evaluasi KKN Kelompok 17. Syukurlah sepertinya mereka amat mengerti, dan tidak ada yang membangunkan untuk kemudian mengikuti rapat terakhir ini. Hihi.

Saat terbangun, kira-kira tengah malam lewat beberapa menit, alhamdulillah pening di kepalaku secara ajaib menghilang. Aku sudah bangun, ketika mendengar Fajar memanggil namaku membangunkan. Duh, iya. Aku punya janji padanya untuk rekaman, untuk mengisi suara video profil desa. Dan aku lebih ingat lagi, jika aku belum latihan membaca sama sekali.

Dengan suara khas orang bangun tidur, suasana larut malam dan masih agak kurang fokus, bim salabim, aku membaca naskah meski terbata-bata. Beberapa kali merekam ulang. Banyak momen freeze, karena beberapa bagian ku buat secara spontan. Akhirnya dari beberapa enam rekaman jika tidak salah, yang dipilih adalah rekaman yang ketiga. Kita harus menerima hasil itu. Yang dibuat secara amat dadakan. Apapun hasilnya patut diterima, sekalipun pahit. Karena sejatinya, hasil memuaskan juga berasal dari latihan yang dilakukan secara konsisten dan dalam waktu yang tidak lama. Sesuatu yang dilakukan dengan sungguh-sungguh juga akan memberikan hasil yang tidak akan menimbukan rasa sesal. Apapun hasilnya.

Well, rekaman akhirnya diakhiri karena dianggap telah cukup memenuhi kebutuhan video. Aku tiba-tiba teringat. Sebelum aku tertidur tadi, beberapa teman telah sibuk mem-packing barang-barang mereka di kamar. Karena besok kita akan pulang ke kampung masing-masing. Sementara aku belum melakukan packing sama sekali, seperti halnya saat kebarangkatan, pada malam hari juga, di rumah.

---

Esok harinya, kami bahu-membahu membersihkan posko. Lalu ternyata bus mini yang akan menghantarkan kami pulang datang satu jam lebih awal. Akhirnya kami kelimpungan. Memasukkan barang ke bus, merapikan posko yang di beberapa bagian masih berantakan dan berpamit-pamitan. Aku sampai lupa jika belum pake make up, bahkan meski hanya bedak tipis-tipis. Tapi aku bersyukur, aku sempat mandi. Meski momok langka air begitu lekat dengan desa ini.

Tralala tralili. Sekian curhat kali ini. Hadeee, lagi-lagi curhat. *tepok jidat*

0 komentar