(Day 1) Harapan Bangsa

Sekarang aku mulai mengerti, mengapa beberapa guruku di SLTA dan beberapa teman sering bilang bahwa aku adalah orang yang amat pendiam. Lihatlah, disini begitu berisik. Semua seperti memekik. Mengatur tata ruang kadang bias, lebih banyak menggunakan mulut apa tangan. Dan aku mulutku hanya bisa diam.
Apapun itu, kurang lebih sebulan ke depan mereka akan menjadi keluargaku, yang bersama-sama hendak mengabdi untuk negeri. Maka aku akan menerima setiap perbedaan yang mutlak dimiliki setiap orang.

Beberapa minggu sebelum hari keberangkatan KKN aku gamang. Benarkah bisa memberikan yang terbaik. Benarkah bisa berkuliah kerja nyata?

Hanya bisa berdoa, semoga Allah senantiasa memudahkan langkah-langkah ringkih kami dalam meraih mimpi-mimpi. Juga mampu berusaha sepenuh jiwa dan semampunya. Agar tidak ada sesal kelak. Membikin hati tiba-tiba sesak.

Omong-omong, selain memilki program kerja (proker) kelompok, aku juga merencanakan untuk membuat proker pribadi. Proker pribadi utamaku ialah mampu berbicara dalam Bahasa Jawa. Ah, padahal itu adalah proker sejak menjalankan PKL (Praktik Kerja Lapang) dulu.

---

Tadi pagi, semua peserta KKN yang berjumlah seribu lebih itu memenuhi area taman kampus depan Rektorat untuk melaksanakan upacara keberangkatan. Upacara yang menggetarkan. Pihak kampus melepas kami, orang-orang yang telah ditempa beberapa waktu untuk kemudian benar-benar melakukan semacam program uji coba mengabdi secara riil kepada masyarakat. Duhai, kami ---yang katanya---adalah agent of change. Semoga betul-betul tidak hanya pandai foto selfie dan bermain game. Mau jadi apa negara ini kalau kita saja seperti ini? Siapa lagi kalau bukan kita?

Anyway, sering kali aku terpana dengan beragam talenta. Mereka memberikan kontribusi dengan kepiawaiannya masing-masing. Lantas aku bertanya, "Apa yang telah aku berikan pada negeri ini?". Sementara, ku temukan limpahan talenta di setiap sudut kota. Aku tertunduk, merenungi diri yang masih belum lihai apa-apa. "Mampukah aku seperti mereka?". Pertanyaan bertubi-tubi yang sebenarnya kadang menyakiti diri sendiri. Lalu kesimpulan mengagumkan kudapat. Bahwa setiap orang berhak memiliki cita tak terbatas. Yang membatasi hanyalah kita sendiri. Apakah kita memandang cita hanya sebatas IPK. Atau sebatas bangku kelas, sekotak kamar, jalan buntu, dan sebagainya. Karena makin besar ikhtiar (usaha dan doa) kita, makin besar pula kemudahan untuk menghilangkan batas-batas yang menghalangi langkah kita untuk menjadi harapan bangsa. Wallahua'lam~

Sumenep, 2017

0 komentar