Allah... Allah... Allah...
Disamping aku yang selalu percaya bahwa Allah akan mengabulkan impianku untuk menyenyam pendidikan magister di negeri orang, kadang aku juga berpikir untuk apa aku menimba ilmu jika membuatku semakin jauh dari-Nya. Iya, kegiatan kuliah yang kerap mencekik. Target-target prestasi yang kadang hanya berbau duniawi. Membuat diri sangsi terhadap niat jihad mencari ilmu di jalan Illahi.
Memang benar, semakin tinggi tingkat keilmuan seseorang diharapkan linier dengan tingkat ketaqwaannya. Namun aku kadang berpikir tentang kesibukan-kesibukan ini. Tentang paham-paham yang menyeruak di setiap sudut ruang kuliah berpenghuni. Atau di selorohan debat mahasiswa di warung kopi. Seperti apakah sebenarnya memelihara hati agar senantiasa damai dan dekat bersama Illahi?
Kala semua kesibukan menyesaki pikiran. Kala teori-teori modern bahkan tidak mampu mendamaikan seperti isi al-Qur'an. Kala itulah, diri ingin kembali lagi, meringkuk, meluangkan waktu untuk menekuri setiap kekhilafan sembari membaca al-Qur'an. Mengingat setiap ketulusan yang di ajarkan guru-guru ngaji ataupun Madrasah. Mengingat Ibu yang setiap hari ikhlas tak mau berkeluh kesah. Menanggung setiap beban pikirannya sendiri. Mengingat Bapak yang rela duduk berjam-jam hingga dini hari memperbaiki beragam televisi. Atau berpanas-panas di sawah berhamparan padi. Mengingat itu semua, sungguh, aku ingin kembali.
Allah... Aku ingin kembali kepada niat yang tulus lagi lurus. Kepada semangat menggapai impian yang sejalan dengan meningkatnya ketaqwaan. Dan semua itu demi Bapak dan Ibu. Tolong, bantulah hamba-Mu.
Bangkalan, 21 Mei 2017 -15:12 WIB
0 komentar