Cinta yang Kamu Pahami

Cinta yang kamu pahami adalah cinta dalam diam, cinta dalam doa, cinta usai menikah, cinta yang tulus. Maka tak ada di kamusmu, bahwa jalan cinta terbaik adalah dengan berpacaran. Namun anehnya, kamu juga bukan orang yang ingin menemui cinta dengan jalan ta'aruf.

Kadang hal-hal semacam itu yang membuatmu berdosa ketika jatuh cinta. Betul. Kamu merasa jadi orang paling bernoda ketika kamu mencintai seseorang. Ini tak seharusnya begini, itu seharusnya tak begitu, ucapmu.

Kamu lupa. Hati itu memang ada pada ragamu. Tapi tetap saja, kamu tidak memiliki sepenuhnya. Memiliki penuh saja tidak, apalagi menentukan akan: mencintai atau tidak. Iya, sejatinya apapun itu hanya milik Allah SWT, kan.

Dengan mengingat itu, kamu tak lagi merasa bersalah. Kamu mulai ingat lagi: Cinta adalah fitrah. Cinta adalah suci. Cinta adalah putih. Cinta adalah kejujuran. Terlebih, meski cinta adalah misteri, setelah menganalisa, kamu tahu jika pada akhirnya selalu mencintai orang karena karakter - karakternya. Sepaket dengan kekurangan yang melekat.

Tapi, kerapkali, cinta membuatmu amnesia. Karena meski hati itu memang bukan punyamu, kamu masih diberikan hak untuk mampu mengendalikannya. Iya, untuk cinta-cinta yang tidak tepat. Cinta-cinta tidak pada masa yang pas. Cinta-cinta bukan pada orang yang seharusnya. Dan lain sebagainya. Yang demikian itu masih sangat mungkin untuk dikendalikan.

Dan cara pengendalian terbaik adalah dengan doa. Keajaiban doa akan membawamu pada keajaiban berlipat. Maka tak ada yang perlu kamu risaukan bagaimana akhirnya.

Cinta memang rumit. Tak hanya buta, cinta pada manusia kerap membuat cinta pada sang pencipta tergeser. Memang ia adalah anugerah. Namun kebiasaan berdzikir dengan nama Allah, yang kemudian kamu ganti dengan namanya bukankah itu salah?

Kadang yang tidak kamu sadari, bahwa ia juga sebuah ujian. Menguji apakah dzikirmu pada Tuhan akan lebih sering ketimbang dengan mengingat nama seseorang. Menguji apakah cinta akan mengendalikanmu atau sebaliknya, kamu yang mengendalikan cinta. 

Beruntung saat sekolah hingga sekarang kamu tidak pernah pacaran, gumammu dalam hati. Karena jangankan berpacaran, mencintai saja bagimu sudah sangat menguras waktu, fokus dan juga energi. Permasalahan hidup sudah sangat kompleks. Bagaimana mungkin kamu mampu menanggung ruwetnya nilai anjlok dengan patah hati yang sakitnya kerap diluar nalar secara bersamaan. Sementara itu kamu paham betul, bahwa tanpa impian, orang miskin akan mati.

Lalu kamu makin mengimani bahwa, meneruskan cinta bukan karena bertujuan untuk menikah adalah pekerjaan paling membuang waktu. Dan dalam hal mencintai dan memerdulikan seseorang, kamu tidak pernah main-main. Rasanya tak pernah ingin setengah-setengah dalam melakukan kebaikan, apapun itu. Pantas saja, cinta yang butuh untuk kamu pertahankan adalah cinta yang memerlukan waktu yang sangat sangat sangat tepat. Tepat dalam ukuran Tuhan.

Maka kini kamu mulai mampu meluaskan pemahamanmu. Selain 'cinta setelah menikah' kian menjadi syarat yang amat kuat, sekarang cinta yang kamu pahami adalah cinta yang membuatmu 'bebas' berkarya. Bebas belajar. Bebas dari kekhawatiran. Bebas dari pikiran buruk. Bebas dari menduakan cinta pada Sang Maha Cinta. Terdengar sangat klise, dan mustahil pemahaman seperti ini mampu menghinggapi pikiran orang yang sedang jatuh cinta. Sebab ia memang suci, tapi kadang dapat membuat penderitanya gelap hati.









0 komentar