Tuhan, Tetapkan Hatiku pada Kebaikan
Aku itu orang yang, bagiku, mudah mengapresiasi orang lain. Juga mudah belajar dari siapapun itu, baik dari latar belakang usia, pendidikan dan lain sebagainya yang berbeda. Bahkan dari hewan dan tumbuhan sekalipun. Apalagi saat ku temukan seseorang yang dianugerahi ragam prestasi dan datang dari keluarga yang kurang beruntung dan tidak memiliki banyak akses. Tapi masih terus bekerja keras untuk mendapatkan hal-hal yang tidak mudah diraih oleh rata-rata orang. Nilainya nyaris 100, bernilai sempurna jika menjadi sosok yang dekat dengan Tuhan-nya. Lalu secara 'alamiah' menginspirasi banyak orang untuk mendekat pada-Nya juga.
Namun ketika ternyata seseorang yang dikagumi (banyak orang) itu memiliki etika yang buruk, seperti sombong, angkuh dan tidak mau melihat orang lain bertumbuh, bahkan merasa tersaingi dan takut orang lain akan lebih dari dirinya, bagiku, di mataku dia kembali bernilai nol. Ini hanya ungkapan personal.
Sebab pada akhirnya kita tidak bisa menjadi hakim, karena Allah-lah yang maha membolak-balikkan hati manusia. Setiap manusia punya kecenderungan untuk bersifat dan bersikap sombong, dan yang bersikap sombong juga punya kesempatan untuk berubah dan menjadi pribadi yang jauh di rendah hati.
0 komentar