Sosok Hebat Sebenarnya
Setiap lembar kehidupan adalah lembar pelajaran yang begitu berarti. Hari ini aku jadi belajar kembali. Ternyata, salah satu sosok hebat adalah mereka yang senang melihat orang lain bertumbuh. Bahkan meski orang-orang itu akan jauh lebih 'hebat' dari dirinya.
Tak mudah memiliki jiwa yang besar seperti itu. Jiwa yang kokoh, tak mudah runtuh. Ada yang dianugerahi kebersihan hati sejak dini. Ada pula yang malah dihantui rasa iri dan dengki. Secara tidak sadar sedang merasa tersaingi saat yang lain bergegas memperbaiki diri.
Tak mengapa. Jika tidak disengaja, barangkali itu adalah perasaan yang manusiawi. Si manusia dengan banyak sisi. Kita hanya perlu selalu dan selalu belajar menata hati. Lalu berusaha memahami bahwa SEGALANYA berasal dari Sang Pemilik Hati. Kecuali hal-hal yang tidak Dia senangi.
_________
Aku seringkali dibuat kagum, oleh mereka yang tanpa tebang pilih mendukung. Sosok-sosok hebat yang seringkali ada di balik layar orang-orang yang katanya hebat. Mereka bisa menjelma teman, keluarga, sahabat, guru, atau bahkan orang yang tak pernah sekalipun mengenalnya.
Sebentar, kenapa aku menyematkan "katanya"? Karena justru barangkali orang-orang itu tak betul-betul hebat kala sudah beranggapan dialah yang paling mumpuni. Jadi tak pernah mau belajar memperbaiki hati lagi. Sebab telah merasa menjadi the one and only. Maksudku, barangkali, tiap kita pernah di posisi orang yang "sok" hebat ini. Setidaknya saat kita sedang sendiri dan tengah merenungi detik demi detik, hari demi hari, tahun demi tahun yang terlewati.
Itulah kenapa aku menulis catatan ini. Agar bisa selalu dibaca oleh diriku selama hidup di bumi. Kemudian menjadi peringatan keras agar selama itu, menjaga jiwa agar tetap waras. Sejatinya, tiap -tiap yang melekat adalah titipan. Bukan karena dirimu. Bukan karena kemampuanmu. Apalagi karena kehebatanmu. Kamu memang punya andil untuk berdoa dan berusaha. Tapi bukan kamu yang mampu menjadikan itu semua.
Maka, jika memang ingin menjadi manusia yang bermanfaat, lakukan step-nya sesuai keinginan yang selama ini kamu catat. Bukankah aneh jika kotor hatimu saat melihat orang lain beraksi dalam kebermanfaatan. Padahal cita-cita luhur membutuhkan kalbu yang 'bersih' dan lapang.
"Hmm, alhamdulillah, laa hawla wa laa quwata illaa billah. Selama hidup rasanya tak pernah iri melihat pencapaian orang lain," katamu. "Justru mereka membuatku terpacu untuk kemudian berlomba-lomba dalam kebaikan," lanjutmu. Eh, itu kan katamu. Ingat, setiap manusia tidak perlu luput dari kesalahan. Semoga Allah SWT senantiasa menetapkan hati kita pada kebaikan. Aamiin allahumma amin.
0 komentar