Putus Sekolah

Motor yang kupacu 'otomatis' berhenti saat lampu merah jalan raya menyala. Kulirik halus dan diam-diam seorang adik yang terdiam di trotoar. Membawa kemucing sebagai senjata ampuhnya untuk mengisi hari-hari. Aku tidak tahu banyak, jika mungkin saja aktivitas itu juga satu-satunya cara agar bisa membeli sepiring nasi. Yang aku tahu dia hanya terpaku disitu. Mungkin karena tidak ada mobil mewah yang bisa dilap. Berbeda dengan teman-temannya yang lain, yang terus mengamen dengan alat musik seadanya.

"Ah, betapa masih belia anak-anak itu. Wajah-wajah polos yang harusnya mengisi ruang-ruang kelas untuk berdiskusi, pusing dengan soal-soal, atau melayangkan pertanyaan-pertanyaan menakjubkan," ucapku lirih dalam kalbu. Hmm, lagi-lagi aku juga tidak mengerti. Apakah ini lebih karena ekonomi yang pas-pasan, atau memang sebuah pilihan. Sebab sebenarnya pilihan-pilihan berat memang selalu ada. Sama sepertiku, waktu itu. Mungkin. Sedikit.

Kala itu aku benar-benar tidak berniat untuk kuliah. Betul, mungkin aku lebih beruntung dari mereka yang sudah sejak dini putus sekolah. Namun yang ku maksud adalah aku yang tidak pernah berpikir bahwa pendidikan adalah hak setiap anak manusia, hingga patut diperjuangkan. Selain karena orang-orang di lingkungan desaku belum begitu familiar dengan berkuliah kala itu, aku memang berpikir ulang mengenai kemampuan orang tua untuk membayar.

Hingga guruku menyertai dengan pemahaman bahwa ada beasiswa, salah satunya dari pemerintah. Dan salah satu sarat untuk bisa lolos adalah dengan nilai yang stabil dan senantiasa meningkat per tiap semester. Itulah satu alasan kenapa aku berusaha sedikit demi sedikit memperbaiki pola belajar saat di MA. Karena aku paham, aku bukan sosok jenius dengan nilai yang gemilang.

Ku pelajari bagaimana teman-temanku mendapat peringkat. Bagaimana mereka bisa jadi 'pintar' di kelas. Mungkin aku juga sudah pernah bercerita. Jika bisa jadi aku adalah satu-satunya anak Bapak dan Ibu yang tidak pernah mendapat peringkat 3 besar di kelas di SD. Tapi ortu tak pernah mempermasalahkan. Lagipula, peringkat dan nilai itu adakala tidak penting. Namun kali itu, aku berpikir salah satu indikator untuk melihat progres belajarku adalah lewat tingkatan rangking.

Aku yang tidak terbiasa naik angkutan terlalu jauh sering mengalami mabuk kendaraan membuat sesampainya di kelas tidak fokus mendengarkan dan menyerap pelajaran. Saat guru tak begitu memperhatikan aku tidur-tiduran karena masih lemas. Tak heran kalau di semester pertama aku berada di peringkat ke-20. Karena terngiang syarat beasiswa, aku tertatih memperbaiki cara belajarku. Mulai dari mengisi berlembar soal si LKS meski tak ada yang meminta---yang aku pelajari dari Aisyah, teman sebangku-ku yang begitu rajin. Kita bagai langit dan bumi.

Aku juga belajar untuk jujur dan tidak mencontek dari Azizah, teman yang tempat duduknya pas di depanku. Atau belajar dari yang lain untuk berusaha aktif di kelas, meski lidahku begitu kelu. Saban hari minimal satu pertanyaan ku lempar pada guru-guru. Meskipun tak selalu berhasil karena seringkali merasa pertanyaan-pertanyaanku tak bermutu. Sungguh, yang ini jangan ditiru.

Di semester berikutnya, meski bukan perkara wow bagi orang lain, aku kaget bukan main saat ternyata masuk ke 10 besar. Hehe. Qadarullah. Aku jadi semakin bersemangat 'mempersiapkan' beasiswa mulai dari tahun pertama di sekolah itu. Singkat cerita, alhamdulillah, bisa lolos dan menjadi mahasiswi sebuah perguruan tinggi negeri di Madura.

Aku ingat sekali, di semester-semester awal perkuliahan seorang dosen mengisi sebuah mata kuliah dengan begitu apik. Cara mengajarnya membuat kuliah itu lumayan ditunggu-tunggu. Ku tulis "lumayan" karena tidak dengan tugasnya. Haha. Saat itu beliau menjelaskan rantai kemiskinan. Betapa salah satu cara untuk memutus mata rantai kemiskinan adalah pendidikan. Beliau menjelaskan dengan begitu rinci sebelum sampai pada kesimpulan itu.

Maka pendapat mengenai pendidikan yang tak penting menurutku kurang tepat. Pendidikan hanya melahirkan robot-robot dengan cara berpikir yang sama. Menjadikan manusia-manusia terdidik yang semata haus nilai yang tertera, lalu lupa nilai yang sebenarnya. Bahwa tugas (yang masih wajar sekalipun) di sekolah maupun dunia perkuliahan sama sekali tak ada faedahnya.

Justru dengan pendidikan, pola pikir kita lebih terbuka. Jadi kian paham bahwa belajar tak hanya dari buku, ruang kelas dan tugas-tugas di dalamnya saja. Namun tambahan-tambahan dari luar yang timbul dari keinginan sendiri tak kalah penting. Sistem pendidikan tak membuat rasa keingintahuan kita terbatas. Effort kita saat mengerjakan tugas dan menyelesaikan ragam persoalan saat masih berstatus seorang penimba ilmu adalah bekal mahal menghadapi tantangan baru di medan yang lebih luas.

Jangan berdalih: tingkat pendidikan tak jadi jaminan dapat pekerjaan, hingga tak mau menimba ilmu. Banyak yang berpendidikan tapi pengangguran. Hei! Harusnya pendidikan tidak hadir dengan tujuan yang sesempit itu, bukan. Bahkan katanya, tingkat pendidikan adalah amanah yang harus dipertanggung jawabkan. Maka maknanya agaknya tak terbatas.

Kita tahu bahwa pendidikan formal tak menentukan nasib seseorang. Masih banyak jalan lain untuk meraih 'kesuksesan' yang definisinya pun tak sama. Lebih-lebih lewat pendidikan dalam arti luas. Jadi, doaku untukmu duhai adik-adik di jalanan: "Bersabarlah, semoga Allah berikan padamu kehidupan yang lebih baik. Sebab kesempatan yang lebih baik dihaturkan untuk semua orang. Dan semoga lebih banyak dermawan yang peduli dengan masa depan anak bangsanya. Aamiin."

Aku berharap, mereka tak pernah berhenti berdoa dan berharap. Sama sepertiku dulu. Selalu berharap dan berdoa dibukakan jalan-jalan yang lebih baik. Tidak lagi berpikir orang tua yang akan membayar, tapi berganti "Allah yang akan bayar." Salah satunya lewat beasiswa. Juga bisa lewat beragam cara. Putus sekolah bukan berarti putusnya harapan. Justru akan ada lebih banyak waktu untuk belajar lebih banyak hal yang juga membuka pintu-pintu kesempatan.

0 komentar