Kita Tetap Indonesia

Saya: Mbak, bisa ceritain sedikit gimana bahagianya bisa ngewujudin mimpi pergi ke luar negeri?

Someone: Ke LN sih biasa aja. Hahaha. Malah kadang ngebosenin. Rumah sendiri is better daripada hotel manapun. Tapi enaknya ketemu orang-orang barunya sih, dan networking.

Saya: Bener banget, Mbak. Sebenernya, Indonesia dan rumah sendiri emang ga ada duanya. Tapi ingin saja memperkaya pengetahuan dan pengalaman lewat perjalanan dan penjelajahan. Barangkali, inshaaAllah menjadi jalan untuk menambah ketaqwaan. Hehehe.

---

Jawaban pada percakapan di atas sebenarnya tidak selalu demikian, bergantung pada pribadi, pengalaman dan persepsi orang yang kita tanya. Akan sangat beragam jawaban yang kita jumpai nantinya. Namun percayalah, bagaimanapun jawabannya kita akan selalu bisa memetik pelajaran.
Dari jawaban itu kita jadi diingatkan kembali, bahwa memang Indonesia (Kampung halaman kita) akan selalu ada di hati dan menjadi tempat bermuara setelah pengembaraan yang panjang. Sebab sepandai-pandai kita berbahasa asing, tetaplah kita ini orang Indonesia. Se-lancar-lancar saya berbahasa Inggris, (Kelak, mungkin. Wallahua'lam. Hehe) tetaplah saya ini orang Madura.
Memang, saat di rumah sesekali pertanyaan yang sama muncul samar-samar dalam pikiran, "Mau ke mana lagi? Ini kan sudah enak."
Tapi justeru itu yang membuat diri bisa jadi tidak berkembang. Stuck. Atau bahkan menurun. Karena ada di zona nyaman.
Oleh sebab itu, perlu pindah, perlu menjelajah, agar bermanfaat. Meski menjadi orang yang bermanfaat tidak mesti harus pindah. Meski di Indonesia juga banyak universitas ternama yang tidak diragukan lagi. Meski Indonesia sangat kaya raya (katanya). Ya! Kaya akan sumber daya. Tapi tetap, kita perlu hijrah. Untuk beberapa masa. Mengais ilmu yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Setelah itu kembali ke satu muara: Indonesia. Karena kita tetap Indonesia.

0 komentar