DAY 26 - Selesai, Penyiangan dan Pemupukan Kangkung darat


Dek Yaqin, Dek Rudi dan Dek Riko membantu kami menyelesaikan penyiangan dan pemupukan kangkung darat. Dan hari ini kedua kegiatan tersebut benar-benar selesai!
***
Ini adalah hari terakhir kami ke lahan. Sedih rasanya meninggalkan kangkung yang kami tanam dan rawat sejak orok (hehe, lebay), cabai yang kita rawat (pemupukan, penyemprotan pestisida, pewiwilan, penalian, pemasangan ajir, dan penyiangan) seakan tidak rela melepas kepergian kita siang ini, para bayam seperti memanggil-manggil kami dari kejauhan, kacang panjang dan sawi agaknya tersedu melihat punggung kami yang perlahan menghilang. 😭😂
***
Selain berat rasanya meninggalkan para tanaman tesebut, berat juga meninggalkan sosok-sosok yang ada di P4S Persada Nusantara.
Mereka, yaitu:
Bapak Ir. H. Machmud Hadi, MP:
Sosok yang tawaddu', religius, gigih, kritis, detail melihat sesuatu, guru yang hebat, memahami betul teori maupun praktek di bidang pertanian. Ini lazim mengingat beliau merupakan lulusan Sekolah dan Kampus di bidang Pertanian. Ilmu yang beliau dapat benar-benar diterapkan dalam kegiatan sehari-hari. Contoh kecil, saat beliau berbelanja buah, beliau akan paham mana buah yang hendaknya menjadi pilihan, cara mengupas dan lain sebagainya.
Ibu Sofi (Istri Pak Machmud):
Waktu beliau menjemput kami di POM bensin saat survey lokasi PKL untuk pertama kalinya, beliau menelfon saya terlebih dulu. Saat itu suara beliau membuat saya mengira beliau adalah wanita muda sebagai sekretaris di P4S. Padahal beliau adalah istri Pak Machmud. Saya tidak bilang beliau tua loh ya. Hehehe. Baru-baru ini saya ketahui beliau adalah manajer keuangan P4S. Ah, tidak jauh berbeda dengan dugaan saya sebelumnya. Ibu itu suka sekali memasak. Kami seringkali kecipratan hasil olahannya. Seperti cilok, kolak, keripik pisang, dll. Kesemuanya memiliki rasa yang lezat!
Mbak Farah(Putri Pak Machmud):
Duh, cantik sekali Mbak yang satu ini. Tidak hanya itu, orangnya menyenangkan saat ngobrol. Bercerita topik apa saja yang menarik bagi kami.
Himma:
Saya akrab dengannya sejak semester satu. Sering kesana kemari bersama untuk hal tertentu. Seperti ke WiFi Zone, perpus, warung, dll.
Selebihnya, kami melatih diri kami mandiri.
Pelan tapi pasti adalah salah satu paham yang dia anut. Saat memasak, memilih belanjaan di tukang sayur, dll. Saya kerap gregetan karena sepertinya saya selalu bekerja dengan cukup cepat alias kadang bisa membuat saya mudah ceroboh. Beda dengan Himma. Mungkin dia ingin teliti dan telaten dalam mengerjakan setiap hal. Himma kadang bisa juga banyak bicara. Dia juga baik orangnya. Oya, dalam hidup, tiga orang wanita yang saya tidak pernah mendengar mereka bernyanyi, yaitu: Ibu saya; Mbak Lia--Ipar saya; dan Himma. Namun belakangan saya mendapati Himma bernyanyi. Cukup lama. Ini sangat langka.
Kesamaan kami kadangkala bisa sama menganggap sesuatu lucu padahal tidak bagi orang lain. Hehehe.
Irvi:
Pertama mengenalnya saya pikir dia sangat jutek. Ternyata perhatian sekali orangnya.
Yang bikin saya gemes sama orang ini adalah saat dimintai pendapat Ia sering sekali menjawab: "Terserah"
Hadeee, kan bikin bingung. Tapi orangnya baik kok. Dia itu orangnya panikan dengan masalah kecil. Apalagi besar. Butuh waktu menjelaskan, menenangkan, dan memaparkan solusi padanya. Dia orang yang mudah peka--ini saya simpulkan semenjak mengenalnya di kampus. Ia selalu merencanakan kegiatan yang akan dilakukannya dalam waktu dekat secara detail. Kesamaan kami: pengin cepat pulang ke rumah. Hehehe
Huda:
Rempong, mungkin kata itu yang tepat kalo mood-nya lagi baik. Rempong itu timbul kala bercanda dengan kami. Mempraktekkan bagaimana lemah gemulainya sosok wanita, membuat kami tergelak.
Terkenal suka tidur di kelas, padahal duduk di kursi paling depan.
Tapi kalau sudah berpendapat/berdiskusi dalam forum bisa cas-cis-cis. Seakan lupa akan dosanya di kelas. Hehehe
Dek Hilman:
Dek Jokowi adalah panggilan yang akrab dipakai. Anaknya humoris, kadang ceplas ceplos, rajin bekerja, berani menjawab dan iseng.
Selera humornya lenyap saat sakit kemarin. Yaiyalah~
Dek Riko:
Jarang pisah lahan dengan Dek Hilman. Sudah seperti soulmate. Anaknya suka bercanda, mudah tertawa, juga rajin bekerja.
Paling giat mengamalkan lelucon khas mereka. Seperti: saat ada yang berbicara dan pembicaraan mengandung kata 'siapa' maka akan di jawab dengan plesetan 'yang nanya'. Namun dalam bahasa Madura agar pas. Jadi? 'Sapah' ditimpali kata 'Se atanyah'.
Sebenarnya lelucon itu telah saya kenal di masa kecil pada zaman lampau.
Dek Zaeni:
Suka memasak, suka bersih-bersih, bisa lari cepat, pandai melantunkan adzan dan menggandrungi seni bela diri.
Pernah suatu waktu anak ini galau katanya.
Secara spontan melihat kerudung di jemuran depan kamar. Ia memakainya dengan lihai. Sontak kami semua kembung karena tertawa.
Dek Husen:
Sangat pendiam, rajin bekerja, suka bersih-bersih, dan suka memasak.
Meski pendiam dan berbicara seperlunya, kala itu ia berani meminta saya membantu menyiapkan bahan diskusi.
Ia yang sibuk menyiapkan--sementara yang lain bermain hape disampingnya atau tengah memasak--bertanya mengenai bahan diskusi untuk malam nanti. Tetap dengan ekspresi pendiam dan gaya bicara seperlunya.
Dek Nasir:
Dekat dengan Dek Yaqin, baik, dan sok manis.
Anak ini yang paling sering menyindir saya kalau saya sedang menggunakan hape. Duh, Mbak hape mulu. Kira-kira begitu katanya.
Dek Franzah:
Sering ngebanyol (sebenarnya semua), baik, dan suka jail.
Kadang bisa sangat handal menceramahi Dek Zaeni yang sedang galau.👍🏻
Dek Rangga:
Ketua, baik dan hobi menyanyi sambil mendengarkan musik. Hobi itu ia lakukan di kamar tidur, kamar mandi, musola, teras, dapur dll. Ini karena suaranya yang begitu nyaring meski tanpa microfon. Semua genre lagu ia putar dan nyanyikan. Tak kenal waktu. Tak kenal bahasa.
Iya, kami akui jika ia punya bakat dari suaranya yang pas untuk ukuran vokalis. Hanya saja perlu dipoles sedikit. Hanya saja sering mengganggu tidur kami. 😁
Dek Mamat:
Sopan, baik, dan sering tidak terpisahkan dengan hape dan earphonenya. Namun sebenarnya anaknya rajin jika di telaah lagi. Butuh kesungguhan untuk memelihara 'rajin' dalam diri kita bukan?
Dek Rudi:
Suka jail, baik, dan humoris. Humornya ia salurkan pada puisi, pantun, cerita pendek dan lagu yang ia buat sendiri sesuka hati.
Gerakan tubuh yang mengikuti humornya membuat saya menduga kalau ia berbakat bermain dalam sebuah pentas teater.
Dek Yaqin:
Lumayan cuek, baik sebenarnya, dan bicara seperlunya. Tawanya pecah saat melihat Dek Rudi tercebur ke selokan air. Terbahak-bahak. Menghilangkan kesan cuek yang melekat pada dirinya.
Sering ia menjadi tempat curhat Dek Zaini, karena orangnya memang dinilai peduli dan punya solusi.
Bu Putri:
Beliau adalah salah satu buruh di P4S yang telah bekerja selama 15 tahun.
Darinya kami belajar arti bersyukur, kesederhanaan dan kedermawanan.
Kami pernah di minta untuk silaturahmi ke kediaman beliau. Jadilah kami menandaskan suguhan yang beliau siapkan sepenuh hati dengan sahabatnya, yang juga buruh tani di P4S.
Senyum Bu Putri membuat hati kami senang, bukan karena seringnya beliau memberi kami kudapan. Akan tetapi pelajaran yang secara tidak langsung beliau ajarkan pada kami.
***
Entah apa kenang-kenangan yang pantas saya berikan pada mereka yang telah ada dan menjadi bagian di PKL saya. Hanya doa agar tali silaturahmi kami selalu terjalin dan selalu dalam ridlo dan lindungan-Nya. Aamiin~
.
.
Lumajang, 3 Februari 2017 @22:41 WIB

0 komentar