Kami siap berangkat menuju lahan hanya tinggal melangkah dari teras dan memakai sandal. Sedang para adik SMK telah menggunakan sepatu boot mereka. Tapi suara Dek Nasir disertai seringai senyum mengagetkan saya: "Mbak Lutfi, masih pagi langsung pegang hape."
Candaan Dek Nasir membuat saya menjawab:
"Hehe, baru juga pegang udah dikritik. Ah, kamu kayak Irvi, Dek."
"Loh, kok aku? Hehe, iya deh aku sering bilang gitu ke kamu, Fi. Tapi kalo aku paketan juga pasti kayak kamu. Hehehe." Irvi menyambung pembicaraan.
"Huuuu," sambung saya.
Kami semua akhirnya melangkahkan kaki, berangkat menuju lahan.
***
Begitulah. Semua kadang memang apa yang tampak di penglihatan kita saja. Kita bahkan belum tahu isinya tapi sudah tidak sabar menilai, bahkan yang lebih parah menghakimi.
***
Seseorang bisa jadi akan sinis pada orang yang sedang memegang hape daripada al-Qur'an. Padahal yang sedang pegang hape bisa jadi tengah membaca al-Qur'an. Sedang yang sepertinya membaca al-Qur'an, mata ngantuknya tertutup kaca mata hitam.
Atau orang yang tengah belajar on-line dengan hape bisa jadi akan dilihat sinis daripada orang yang tengah terlihat membaca buku tebal yang didalamnya diselipkan hape dengan game COC yang sedang war. Orang juga bisa saja lebih sinis pada seseorang yang tengah menulis artikel lewat hape daripada orang yang tengah menulis surat cinta monyet. Terlihat brilian orang yang sedang menggunakan pulpen dan buku lantas menulis.
Atau orang yang tengah belajar on-line dengan hape bisa jadi akan dilihat sinis daripada orang yang tengah terlihat membaca buku tebal yang didalamnya diselipkan hape dengan game COC yang sedang war. Orang juga bisa saja lebih sinis pada seseorang yang tengah menulis artikel lewat hape daripada orang yang tengah menulis surat cinta monyet. Terlihat brilian orang yang sedang menggunakan pulpen dan buku lantas menulis.
***
Hanya menilai berlandaskan sampul. Hanya menilai berlandaskan image. Image buruk handphone yang kerap menjadikan orang lupa diri dan menjadikan orang mengubah smartphone menjadi stupidphone, membuat kita pandai memberi penilaian berdasarkan sampul. Walaupun pada akhirnya kita lebih butuh untuk menilai diri sendiri terlebih dulu.
Hanya menilai berlandaskan sampul. Hanya menilai berlandaskan image. Image buruk handphone yang kerap menjadikan orang lupa diri dan menjadikan orang mengubah smartphone menjadi stupidphone, membuat kita pandai memberi penilaian berdasarkan sampul. Walaupun pada akhirnya kita lebih butuh untuk menilai diri sendiri terlebih dulu.
***
Saya tidak mengatakan jika saya telah menggunakan gadget sebagamana mestinya. Karena saya juga masih berusaha. Tak perlu saya sampaikan secara gamblang apa saja usaha saya. Karena sejatinya usaha yang saya anggap begitu sukar dan penuh perjuangan bisa terlihat ringan dalam penilaian orang lain.
Apalah pentingnya mendengarkan penilaian oranglain. Bagaimana pun kita akan selalu salah dimata orang lain. Terus berusaha menjadi lebih baik dari diri kita yang sebelumnya bukan dari diri orang lain.
Saya tidak mengatakan jika saya telah menggunakan gadget sebagamana mestinya. Karena saya juga masih berusaha. Tak perlu saya sampaikan secara gamblang apa saja usaha saya. Karena sejatinya usaha yang saya anggap begitu sukar dan penuh perjuangan bisa terlihat ringan dalam penilaian orang lain.
Apalah pentingnya mendengarkan penilaian oranglain. Bagaimana pun kita akan selalu salah dimata orang lain. Terus berusaha menjadi lebih baik dari diri kita yang sebelumnya bukan dari diri orang lain.
***
Ingat tentang kisah seorang ayah, anak dan keledainya?
Kisah ini sangat populer. Sampai-sampai perkataan ayah kepada sang anak dijadikan kata mutiara. Bunyinya: "Kalamunnnas laa yantahii”
Artinya: "Perkataan manusia tidak akan ada habisnya."
Kisah ini sangat populer. Sampai-sampai perkataan ayah kepada sang anak dijadikan kata mutiara. Bunyinya: "Kalamunnnas laa yantahii”
Artinya: "Perkataan manusia tidak akan ada habisnya."
***
Penyiangan kangkung darat belum kelar juga. Kami melanjutkannya hari ini. Hasil yang kami berempat hasilkan lebih banyak dari hari biasanya.
Jam kerja kami hingga 10:30 WIB. Sekitar 10:08 kami melakukan pemanenan jagung bersama adik-adik SMK dan para pekerja atas permintaan Pak Machmud. Jagung yang dipanen sudah lumayan terlambat. Ada beberapa jagung yang sudah hitam-hitam bijinya.
Disaat yang sama pekerja lain sedang melakukan pemanenan kelapa muda. Kami melihat tumpukan kelapa muda yang nampak segar. Lalu kami dihadiahkan satu kelapa muda per dua orang. Ternyata penilaian kami tentang segarnya kelapa muda ini sebenar apa yang kita lihat. Gleg~
.
.
Lumajang, 27 Januari 2017 @11:32 WIB
Jam kerja kami hingga 10:30 WIB. Sekitar 10:08 kami melakukan pemanenan jagung bersama adik-adik SMK dan para pekerja atas permintaan Pak Machmud. Jagung yang dipanen sudah lumayan terlambat. Ada beberapa jagung yang sudah hitam-hitam bijinya.
Disaat yang sama pekerja lain sedang melakukan pemanenan kelapa muda. Kami melihat tumpukan kelapa muda yang nampak segar. Lalu kami dihadiahkan satu kelapa muda per dua orang. Ternyata penilaian kami tentang segarnya kelapa muda ini sebenar apa yang kita lihat. Gleg~
.
.
Lumajang, 27 Januari 2017 @11:32 WIB
0 komentar